Pasta Gigi Berfluoride Aman untuk Anak, Asal Takaran Tepat

Anak di bawah tiga tahun beda takaran pasta gigi mengandung flouride dengan yang si Kecil yang lebih besar.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 16 Juli 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi anak sikat gigi dengan pasta gigi mengandung flouride. (Image by mdjaff on Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak orangtua yang ragu menggunakan pasta gigi berfluoride untuk anak karena khawatir si Kecil akan menelannya. Padahal, penggunaan pasta gigi berfluoride justru dianjurkan sejak gigi pertama tumbuh untuk mencegah karies atau gigi berlubang. Kuncinya adalah menggunakan takaran yang sesuai dengan usia anak.

Dokter gigi Alana Aluditasari, SpKGA mengatakan jika kandungan flouride pada pasti gigi 1.000 ppm maka penting untuk menjaga dosis agar tidak berlebihan. Alana mengungkapkan anak berusia di bawah tiga tahun umumnya belum mampu berkumur dengan baik. Namun, orangtua tidak perlu khawatir apabila anak tidak sengaja menelan sedikit pasta gigi, selama jumlah yang digunakan sesuai anjuran.

Untuk anak usia di bawah tiga tahun, pasta gigi berfluoride cukup digunakan sebesar sebutir beras setiap kali menyikat gigi.

"Kalaupun sedikit tertelan, selama dosisnya dijaga dan hanya menggunakan pasta gigi sebesar sebutir beras, itu masih aman kalau sikat gigi dua kali atau maksimal tiga kali," kata dokter yang praktik di RS Pondok Indah - Puri Indah Jakarta. 

Sementara itu, untuk anak berusia di atas tiga tahun yang umumnya sudah mulai bisa berkumur. Jadi, jumlah pasta gigi dapat ditingkatkan menjadi sebesar biji jagung.

Alana mengingatkan orangtua tetap perlu mendampingi anak saat menyikat gigi agar penggunaan pasta gigi sesuai takaran dan anak belajar meludah serta berkumur dengan benar. Selain itu, menurut rekomendasi orangtua tetap perlu menggosokan gigi anak hingga usia 7 tahun.

 

Fluoride Berperan Melindungi Gigi dari Karies

Dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak, Alana Aluditasari.

Alana menjelaskan fluoride memiliki peran penting dalam memperkuat lapisan email gigi sehingga lebih tahan terhadap serangan asam yang dihasilkan bakteri penyebab karies.

Tanpa perlindungan fluoride, gigi tetap berisiko mengalami kerusakan meski anak tidak memiliki kebiasaan yang sering dikaitkan dengan gigi berlubang, seperti terlalu sering mengonsumsi makanan manis atau minum susu botol hingga tertidur.

"Ada beberapa pasien yang tidak punya kebiasaan yang buruk tapi sampai umur tiga tidak pakai odol berflouride, ternyata bisa hancur juga giginya. Jadi, sesignifikan itu penggunaan flouride," tuturnya.

Alana juga mengingatkan selain menggosok gigi pada pagi dan sebelum tidur, upaya lain agar bisa mencegah karies gigi dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman manis dan lengket. Lalu,  rutin memeriksakan kesehatan gigi ke dokter gigi enam bulan sekali agar kerusakan gigi dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.         

 "Kalau ada lubang di antara gigi itu biasanya baru kelihatan kalau dicek oleh dokter gigi dengan alat-alat yang ada di ruang praktek," tutur Alana.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya