Deteksi Dini Kanker, 10 Ribu Puskesmas Dilengkapi X-Ray dan USG Berbasis AI

Sekitar 80 persen kanker di Indonesia ditemukan sudah lanjut. Kebanyakan sudah masuk stadium 3 dan 4.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan sekitar 80 persen pasien kanker di Indonesia terdiagnosis stadium tiga atau empat. Padahal jika ditemukan saat stadium satu maka angka kesembuhan lebih tinggi.

"Kunci utama penanggulangan kanker adalah deteksi cepat dan pengobatan cepat. Jika diketahui pada stadium satu, peluang kesembuhan dengan teknologi yang ada saat ini sangat tinggi," kata Budi dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 di Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Sebagai upaya untuke mendeteksi dini kanker, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melengkapi 10 ribu Puskesmas dengan mesin X-ray digital dan alat ultrasonografi (USG) berbasis artificial intelligence (AI). Kehadiran alat tersebut mampu mendeteksi kanker paru dan payudara.

Selain itu, layanan tes HPV DNA untuk mendeteksi virus penyebab kanker serviks juga disiapkan di fasilitas layanan kesehatan primer. Upaya lain untuk deteksi kanker lewat Program Cek Kesehatan Gratis bagi masyarakat berusia 40 tahun ke atas yang berisiko tinggi.

Di tingkat rujukan, 514 kabupaten/kota akan dilengkapi dengan layanan CT scan untuk penegakan diagnosis lanjutan.

Budi juga menargetkan pengadaan 60 alat PET scan pada 2028, memperluas layanan kemoterapi di 500 kabupaten/kota, serta membangun fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais. Untuk mendukung hal tersebut kehadiran sumber daya manusia amat penting. 

Menjawab tantangan tersebut, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Arianti Anaya, menyatakan siap mempercepat ketersediaan dokter spesialis onkologi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur pendidikan konvensional yang membutuhkan waktu panjang.

"Langkah ini kami lakukan melalui jalur program Fellowship dan Advanced Clinical Training. Dengan demikian, kebutuhan SDM kesehatan khusus penanganan kanker dapat segera terpenuhi untuk melayani masyarakat," kata Arianti mengutip keterangan tertulis Kemenkes RI.

Kemenkes telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker 2024–2034 dan tengah mengintegrasikan data registri kanker nasional ke dalam laporan global WHO.

Ke depan, pelayanan kanker di Indonesia akan memasuki era kedokteran genomik (precision medicine), yang memungkinkan layanan primer melakukan tes genetik untuk mendeteksi risiko kanker sebelum penyakit berkembang.

"Melalui pemerataan teknologi, pembenahan SDM, serta penguatan registri nasional, kita optimistis angka kematian akibat kanker di Indonesia dapat ditekan secara drastis," kata Budi.

 

242 Ribu Kematian Akibat Kanker Tiap Tahun

Kanker adalah kelompok penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain.

Menurut data GLOBOCAN terdapat 408.661 kasus baru kanker di Indonesia dengan 242.988 kematian setiap tahun.

Kanker menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga secara nasional. Kanker payudara dan kanker serviks menjadi ancaman utama bagi perempuan, sedangkan pada laki-laki didominasi oleh kanker paru dan kanker kolorektal.

Â