Cuaca Panas, Pegawai Tokyo Berkantor dengan Celana Pendek

Kebijakan membolehkan pegawai pemerintah Tokyo memakai celana pendek saat bekerja di musim panas kali ini.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 17 Juli 2026, 17:30 WIB
Cuaca panas di Tokyo, Jepang. (Foto: Shuji Kajiyama, file/AP)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca panas yang menyengat membuat Pemerintah Metropolitan Tokyo, Jepang membolehkan pegawai mengenakan celana pendek ke kantor. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC) di tengah tingginya biaya energi.

Pemandangan pegawai laki-laki ngantor dengan celana pendek terlihat pada Selasa, 15 Juli 2026. Saat itu, suhu di Tokyo mencapai 34 derajat Celsius.

Setidaknya lima pegawai pria di kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo datang bekerja mengenakan celana pendek. Ini adalah pemandangan tidak biasa lantaran negara ini sangat menghormati tampilan formal saat bekerja.

Salah satunya adalah Noboru Watanabe (50). Ia mengaku awalnya merasa malu mengenakan celana pendek ke kantor karena budaya kerja Jepang masih identik dengan pakaian formal.

"Awalnya saya merasa malu. Namun setelah mencobanya, saya baru sadar betapa nyamannya mengenakan celana pendek," ujar Watanabe mengutip Japan Times, Jumat (17/7/2026).

Walau boleh memakai celana pendek, ia kembali mengenakan pakaian kerja formal ketika dibutuhkan. Menurutnya saat pakai pakaian formal di musim panas sangat terasa gerah. 

Kebijakan memperbolehkan pegawai pemerintah Tokyo memakai celana pendek diumumkan Gubernur Tokyo Yuriko Koike pada musim semi lalu atau April 2026. Ia menyebut prospek pasokan listrik yang menantang menjadi salah satu alasan di balik kebijakan tersebut.

 

Kampanye Cool Biz

Aturan ini merupakan pengembangan dari kampanye Cool Biz, program penghematan energi yang mendorong pegawai melepas dasi dan jas selama musim panas. Kampanye tersebut pertama kali diperkenalkan Koike pada 2005 ketika menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Jepang.

"Kami mendorong pegawai mengenakan pakaian yang nyaman, seperti kaus polo, kaus, sepatu kets, dan, sesuai dengan jenis pekerjaannya, celana pendek," kata Koike.

Kebijakan yang diluncurkan Keiko itu mendapat pro dan kontra dari pegawai Tokyo. Takayuki Deguchi (30), karyawan sebuah perusahaan pemasaran yang masih mewajibkan jas, menilai kebijakan tersebut lebih fleksibel karena membantu pekerja menyesuaikan diri dengan cuaca panas.

Namun, tidak semua orang setuju. Sachie Koike (52), seorang mengatakan masih bisa menerima jika pria melepas dasi atau jas saat musim panas, tetapi menganggap celana pendek kurang pantas dikenakan di tempat kerja.

"Saya menganggap celana pendek identik dengan pakaian saat libur. Menurut saya, kaki berbulu juga tidak terlihat rapi di lingkungan kerja," ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya