Liputan6.com, Jakarta - Suhu panas ekstrem dapat berdampak pada siapa saja. Namun, heatwave atau gelombang panas lebih berdampak pada sistem kardiovaskular perempuan dan dampaknya lebih berat dibandingkan pada laki-laki.
Hal ini diungkapkan dokter umum NHS yang mendalami bidang kesehatan perempuan, Nighat Arif, mengutip BBC pada Selasa (21/7/2026).
Advertisement
Akademisi dan konsultan kesehatan masyarakat di Global Health University College London, Inggris, Cat Pinho-Gomes, menyebut perempuan lebih rentan meninggal akibat gelombang panas dibandingkan laki-laki. Meski demikian, klaim tersebut masih memerlukan bukti lebih lanjut.
Oleh karena itu, seiring dengan perubahan iklim yang memicu gelombang panas intens, para ahli menyerukan peningkatan kesadaran akan risiko yang dihadapi perempuan serta upaya perlindungan yang lebih terarah.
Kenapa Perempuan Lebih Kena Dampak dari Gelombang Panas?
Arif mengungkapkan salah satu penyebab utama perempuan lebih rentan terhadap panas adalah perbedaan cara tubuh mengatur suhu.
Penelitian menunjukkan perempuan umumnya menghasilkan keringat lebih sedikit ketika suhu tubuh lebih tinggi. Lalu, produksi keringat lebih sedikit dibandingkan laki-laki.
Akibatnya, proses pelepasan panas tubuh menjadi lebih lambat sehingga tubuh lebih sulit mendinginkan ketika cuaca terik.
Selain itu, kadar estrogen dan progesteron pada perempuan mengalami perubahan paling signifikan selama siklus menstruasi, hamil, menyusui, hingga menopause yang juga memengaruhi tubuh dalam mengatur suhu.
Semua ini memberikan beban kerja yang berat bagi sistem kardiovaskular, terutama saat cuaca panas.
Kondisi tersebut membuat sebagian perempuan lebih mudah mengalami keluhan seperti tubuh terasa sangat panas, pusing, mudah lelah, sampai rasa tidak nyaman yang meningkat saat cuaca ekstrem.
Faktor Sosial
Bukan hanya dipengaruhi kondisi biologis, para ahli menilai faktor sosial juga berperan terhadap tingginya risiko gangguan kesehatan akibat panas pada perempuan.
Pinho-Gomes mengatakan lahir dari berbagai kondisi sosial-ekonomi, perempuan cenderung lebih mengambil alih peran dalam mengasuh keluarga, sehingga memiliki waktu yang terbatas untuk istirahat atau berada dalam kondisi ekonomi yang membuat mereka lebih sulit menghindari paparan panas.
Semakin tua usia seseorang, semakin rentan pula ia terhadap panas. Rata-rata perempuan juga memiliki usia harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki, maka perempuan lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat hal ini.
Tambahannya, lansia rentan mengalami demensia, yakni kondisi di mana fungsi otak progresif menurun. Akibatnya, dapat membatasi kemampuan untuk mengenali rasa haus atau memiliki kondisi kesehatan yang mengharuskan penggunaan obat untuk menurunkan tekanan darah
Kedua hal ini dapat semakin meningkatkan risiko seseorang mengalami stres akibat panas, kata Pinho-Gomes.
Cuaca Panas Berdampak Saat Haid
Cuaca panas ekstrem tidak hanya menimbulkan rasa gerah, tetapi juga dapat memperburuk keluhan selama menstruasi.
Perubahan hormon yang terjadi sepanjang siklus haid membuat kemampuan tubuh dalam mengatur suhu ikut berubah, sehingga rasa tidak nyaman ketika heatwave terasa lebih nyata.
Arif menjelaskan bahwa seiring naik-turunnya kadar hormon selama siklus menstruasi, tingkat kepekaan tubuh terhadap panas pun dapat ikut berubah.
Pada paruh kedua siklus menstruasi, kadar progesteron meningkat, tepat sebelum haid dimulai. Hal ini dapat menaikkan suhu inti tubuh, sehingga seseorang merasa lebih tidak nyaman ketika kepanasan.
Memasuki masa menstruasi, kadar estrogen yang berperan dalam membantu tubuh mengatur suhu anjlok ke titik terendah, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk mendinginkan suhu tubuh.
Seorang warga London Utara, Michaela Finn, yang sedang mengalami menstruasi saat gelombang panas turut menuturkan pandangannya. "Volume darah haid saya normal, tetapi saya merasakan rasa lelah, pusing, cemas, dan sulit tidur meningkat drastis,"
Ia mengatakan kondisi tersebut berpengaruh dalam aktivitas sehari-hari.
“Saat mandi pagi, saya merasa mau pingsan. Jadi, saya realistis saja dan izin sakit. Tubuh saya benar-benar kelelahan, pegal-pegal, dan mengalami kram." tambah Finn.
Keluhan serupa dialami dari seseorang berusia 27 tahun di London Selatan, Charlie Paddock. Ia mengaku hampir dua kali pingsan dan mengalami sensasi panas yang sangat hebat.
Sementara itu, seseorang lainnya bernama Jess Allingham, mengatakan dirinya mengalami rasa kelelahan jauh melebihi biasanya disertai brain fog atau kesulitan berkonsentrasi.
Arif menyoroti bahwa saat kehilangan darah akibat menstruasi, tubuh juga kehilangan zat besi, yang dapat memengaruhi kualitas tidur.
"Perempuan yang menghadapi siklus menstruasi yang deras, kadar zat besi yang dimiliki menjadi rendah, sehingga memengaruhi penyaluran oksigen, serta sistem kardiovaskular harus bekerja lebih keras," kata Arif.
Hal tersebut juga membuat tubuh lebih cepat lelah dan meningkatkan rasa tidak nyaman selama menstruasi.