Kolom Pakar: Dokter Internship Kembali Meninggal

Kematian dokter internship yang terjadi berulang dalam beberapa bulan terakhir seharusnya menjadi perhatian serius.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 23 Juli 2026, 18:52 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama menilai perlu ada perhatian khusus terhadap kondisi para dokter internship di Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Sehubungan berita berjudul "Lagi, Dokter Muda Tewas. Jasad Ditemukan di Penginapan" di Liputan 6 pagi ini maka ada tiga hal yang ingin saya sampaikan.

Pertama, kita kembali lagi amat sedih dengan meninggalnya teman sejawat dokter internship ini. Kalau berita ini benar maka sudah ada lima dokter internship kita yang meninggal antara Februari sampai Juli 2026 dengan sebab yang berbeda-beda.

Meninggalnya para dokter internship tentu tidak dapat hanya dinilai dari jumlah yang wafat. Hal ini perlu dipahami secara luas, mendalam dan secara manusiawi.

Kedua, Liputan6.com 2 Mei 2026 menurunkan berita berjudul “Dokter Internship di Jambi Meninggal, Kemenkes Investigasi Dugaan Beban Kerja Tidak Manusiawi”, ini tentang kejadian di Jambi bukan di Lampung.

Kita tentu memang belum dapat mengambil kesimpulan penyebab kematian dokter internship di Lampung ini sebelum investigasi dan mungkin juga otopsi yang akan dilakukan. Tetapi, bagaimanapun memang rasanya sedih sekali mendengar kata “investigasi kematian dokter” secara berturut-turut harus dilakukan di berbagai daerah di negara ini. Nampaknya perlu ada prioritas perhatian amat khusus tentang situasi menyedihkan ini.

Ketiga, kalau memang benar bahwa dokter internship sakit maka tentu harus ada setidaknya dua langkah yang dilakukan. Langkah ke satu adalah harus mendapatkan pengobatan yang tepat, baik di puskesmas atau rumah sakit tempat kerja. Bila diperlukan dirujuk ke rumah sakit lain yang fasilitasnya lebih memadai. Artinya, pada dokter yang sakit dan pada semua pasien maka perlu ditegakkan diagnosis yang tepat dan lalu mendapat pengobatan yang diperlukan sesuai diagnosis dan keadaan pasiennya.

Langkah ke dua, kalau keadaan sakit sesuai pertimbangan medis memang memerlukan istirahat maka tentu perlu diberikan istirahat yang patut.

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University Australia, Lulus dokter tahun 1980 dan Guru Besar Kedokteran sejak 2008

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya