Stres dan Kelelahan Bisa Perberat Gejala Penyakit Jantung

Pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner bakal mengalami nyeri dada lebih sering bila sedang stres.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 24 Juli 2026, 13:21 WIB
Pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner bakal mengalami nyeri dada lebih sering bila sedang stres .(Freepik/lovelyday12).

Liputan6.com, Jakarta - Stres dan kelelahan kerap dikaitkan dengan penyakit jantung. Faktanya, keduanya bukan penyebab utama penyakit jantung. Namun, stres dan kelelahan dapat memicu atau memperberat gejala pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung.

"Pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi atau high stress job dan juga kelelahan atau keletihan itu memicu ya, memicu itu artinya memperberat, tetapi bukan sebagai sumber penyebab penyakit jantung," kata Dr dr Susetyo Atmojo SpJP. 

Ia mencontohkan pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner bakal mengalami nyeri dada lebih intens bila sedang stres atau kecapekan. Sementara itu, pada pasien gagal jantung, kelelahan dapat membuat gejala sesak napas menjadi lebih mudah muncul. "Stres juga bisa memperberat keluhan tersebut," jelas Susetyo ditemui di Health Talk bersama Daewoong Indonesia pada Kamis (23/7/2026).

Susetyo menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami stres, tubuh akan merespons dengan menyempitkan pembuluh darah atau yang dalam istilah medis disebut vasokonstriksi.

Respons ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh, misalnya ketika menghadapi situasi yang mengancam sehingga aliran darah dapat mengalir lebih cepat ke organ-organ penting. Namun, kondisi tersebut menjadi masalah pada orang yang sudah memiliki penyempitan pembuluh darah akibat penyakit jantung koroner.

"Jadi pembuluh darah itu dinamis, elastis, bisa konstriksi, bisa relaksasi, ya itu anugerah Tuhan ya," tutur dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. 

 

Faktor Risiko Penyakit Jantung

Maka dari itu, Susetyo mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap stres dan kelelahan sebagai satu-satunya penyebab penyakit jantung. Penyakit jantung umumnya dipicu oleh berbagai faktor risiko yang saling berkontribusi, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, hingga gaya hidup yang kurang sehat.

"Stres dan kelelahan bisa mencetuskan atau memperberat keluhan pada pasien yang sudah memiliki penyakit jantung. Namun, sebagai penyebab awal, jawabannya adalah kombinasi dari berbagai faktor risiko," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa banyak orang mengatakan penyakit jantung seperti serangan jantung terjadi mendadak. Terkait itu, ia membenarkan bahwa serangan jantung itu hal mendadak tapi tetapi penyakit yang mendasarinya berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun, bahkan bisa mencapai puluhan tahun.

"Penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak aterosklerosis sebenarnya dapat dideteksi lebih dini melalui pemeriksaan kesehatan (medical check-up), bahkan sebelum penyumbatan mencapai sekitar 70 persen. Karena itu, meski serangan jantung datang tiba-tiba, penyakitnya dapat dikenali dan dicegah sejak lebih awal melalui deteksi dini serta pengendalian faktor risiko," pesan Susetyo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya