Ancaman yang Diam-Diam Bisa Hambat Masa Depan Anak Indonesia

IHDC ungkap ancaman senyap yang diam-diam bisa menghambat kognitif dan masa depan anak Indonesia.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 26 Juli 2026, 06:00 WIB
Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, memaparkan hasil kajian yang menemukan potensi Silent Cognitive Burden, ancaman senyap yang dapat menghambat perkembangan kognitif anak Indonesia. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia berpotensi menghadapi Silent Cognitive Burden, yaitu penurunan kapasitas kognitif anak yang berlangsung secara perlahan akibat masalah kesehatan yang selama ini belum menjadi perhatian utama dalam kebijakan publik. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi krisis kognitif pada anak Indonesia.

Peringatan tersebut disampaikan Indonesia Health Development Center (IHDC) berdasarkan hasil Community Diagnosis yang dituangkan dalam Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4. Kajian yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, ini dilakukan melalui rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi dalam Expert Validation Meeting yang melibatkan pakar kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.

Ray menjelaskan bahwa tim peneliti menyusun peringkat faktor-faktor yang menjadi penyebab anak Indonesia menghadapi Silent Cognitive Burden. Menurutnya, istilah "silent" atau "senyap" digunakan karena masalah ini kerap luput dari perhatian.

"Kenapa disebut senyap? Karena kita tidak menyadarinya. Seolah-olah tidak ada, padahal sebenarnya ada," ujar Ray pada Kamis (23/7/2026)

Dia, mengatakan, kemampuan kognitif anak untuk berkembang secara optimal dapat terhambat apabila empat faktor utama ini tidak ditangani.

Empat Faktor Utama Silent Cognitive Burden

Faktor pertama adalah gangguan refraksi yang tidak terkoreksi atau uncorrected refractive error, seperti rabun jauh (mata minus).

Menurut Ray, gangguan penglihatan yang tidak ditangani dapat berdampak besar terhadap kemampuan belajar anak karena sekitar 80 persen proses pembelajaran berlangsung melalui penglihatan.

IHDC melalui penelitian yang dilakukan dr. Kianti Raisa Darusman, Sp.M(K), MMedSci menemukan bahwa empat dari 10 anak sekolah dasar di wilayah urban Jakarta mengalami gangguan refraksi.

Kondisi ini membuat anak kesulitan melihat papan tulis, bahkan ketika sudah diminta maju ke depan kelas. "Berdasarkan berbagai penelitian global, gangguan refraksi yang tidak dikoreksi dapat menghambat proses belajar karena sekitar 80 persen pengalaman belajar dan stimulasi diterima melalui mata," ujarnya.

Padahal, solusi untuk masalah tersebut relatif sederhana, yakni melalui penggunaan kacamata. Namun, kata Ray, masih banyak anak yang belum mendapatkan penanganan karena program skrining gangguan penglihatan belum dilakukan secara masif.

 

Ancaman Lain yang Intai Anak Indonesia

Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, memaparkan hasil kajian yang menemukan potensi Silent Cognitive Burden, ancaman senyap yang dapat menghambat perkembangan kognitif anak Indonesia. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Selain gangguan penglihatan, faktor kedua adalah anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi. Kondisi ini diketahui dapat mengganggu perkembangan otak, konsentrasi, kemampuan belajar, hingga working memory, yang menjadi fondasi penting dalam perkembangan kapasitas kognitif anak.

Ray mengingatkan bahwa anemia defisiensi besi bukanlah masalah baru. Bahkan, kondisi tersebut sudah menjadi persoalan kesehatan masyarakat sejak sebelum Indonesia merdeka dan hingga kini masih belum terselesaikan.

"Kalau kita bicara Hari Anak Nasional, lupakan masa depan anak Indonesia apabila gangguan mata mereka tidak dikoreksi dan mereka masih mengalami kekurangan zat besi," ujarnya.

Sementara itu, dua faktor lain yang turut menjadi determinan utama Silent Cognitive Burden adalah kurangnya asupan protein dan gangguan perilaku.

"Empat kondisi inilah yang kami sebut sebagai determinan utama yang mengancam kemampuan kognitif anak Indonesia. Karena itu, kami merekomendasikan bahwa Indonesia saat ini menghadapi Silent Cognitive Burden," pungkas Ray.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya