Liputan6.com, Jakarta - Indonesia Health Development Center (IHDC) menilai pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berfokus pada kesehatan fisik anak. Kemampuan anak untuk berpikir kritis, berkreasi, dan membangun imajinasi tentang masa depan juga perlu dikembangkan sejak dini.
Hal tersebut disampaikan IHDC melalui Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4 yang mengangkat potensi Silent Cognitive Burden, yaitu penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang terjadi secara perlahan akibat berbagai masalah kesehatan yang selama ini belum menjadi perhatian utama dalam kebijakan publik.
Kajian yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, ini dilakukan melalui rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi dalam Expert Validation Meeting yang melibatkan pakar kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.
Advertisement
Imajinasi Anak Perlu Dibangun Sejak Dini
Dalam kajian tersebut, IHDC memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kapasitas neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, serta membangun orientasi terhadap masa depan.
Menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi, paradigma pembangunan anak perlu bergeser, dari sekadar mencegah penyakit menjadi membangun kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.
"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial. Kapasitas ini sebaiknya mulai diukur sejak usia anak agar mereka dapat belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya," ujar Ray, yang juga merupakan pendiri Health Collaborative Center (HCC).
Menurutnya, membangun imajinasi anak bukan hanya mendorong kreativitas, tapi juga menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menciptakan inovasi di masa depan.
4 Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Kognitif Anak
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9306940/original/056754800_1784940464-Direktur_Eksekutif_IHDC__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH__1_.jpg)
IHDC mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat dengan perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah, yaitu gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.
Berdasarkan analisis IHDC, diperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan refraksi yang belum terkoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi. Sementara berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, Prof. Nila F. Moeloek, mengatakan keempat kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga dapat mengurangi kemampuan belajar, memori kerja, perhatian, kreativitas, hingga kapasitas anak dalam membangun cita-cita.
"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal, bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," kata Nila.
Â
Advertisement
Investasi Otak Anak untuk Indonesia Emas 2045
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9306929/original/049447400_1784935618-Direktur_Eksekutif_di_Indonesia_Health_Development_Center__IHDC___Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH_oleh_Aditya_Eka_Prawira__2_.jpg)
IHDC menilai gangguan refraksi yang tidak terkoreksi menjadi determinan dengan peluang intervensi terbesar karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung pada proses belajar, serta dapat ditangani melalui skrining dan penggunaan kacamata.
Lembaga tersebut juga merekomendasikan penguatan pencegahan anemia defisiensi besi, peningkatan kualitas nutrisi anak sekolah, serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan modal manusia.
Menurut Nila, mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga memiliki kapasitas berpikir, berimajinasi, dan berinovasi.
"Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa,"Â pungkas Nila.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136323/original/018303500_1739855855-cek_fakta_keroncong.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342869/original/054403100_1757402619-IMG-20250909-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9306939/original/049926400_1784940464-Direktur_Eksekutif_IHDC__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306928/original/076999000_1784935617-Direktur_Eksekutif_di_Indonesia_Health_Development_Center__IHDC___Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH_oleh_Aditya_Eka_Prawira__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306948/original/066583900_1784942717-Profil_Hong_Wang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4162956/original/096781600_1663563714-christian-lue-HbFMR6slGnE-unsplash_1_.jpg)