Setelah Bencana Berlalu, Trauma dan Kecemasan Bisa Tetap Menghantui

Dampak mental setelah bencana bisa bertahan lama. Kenali trauma, kecemasan, dan cara memulihkannya.

Diterbitkan 08 September 2026, 18:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah bencana alam yang terjadi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Efek psikologis bahkan bisa bertahan setelah situasi darurat berakhir, mulai dari duka, rasa takut, kebingungan, kecemasan, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).

Dampak psikologis setelah bencana dapat berbeda pada setiap orang. Psikiater Nomi Levy-Carrick, MD, MPhil, mengatakan, respons seseorang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pengalaman masa lalu, kondisi kehidupan saat bencana terjadi, bentuk paparan terhadap bencana, serta dukungan yang diterima selama proses pemulihan.

"Bencana alam memberi dampak pada orang dengan cara yang berbeda," ujar Levy-Carrick dikutip dari Mass General Brigham pada Selasa (8/9/2026).

Menurut Levy-Carrick, kehilangan kendali secara tiba-tiba dan ketidakpastian setelah bencana dapat terasa sangat berat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih sulit menghadapi dampak bencana, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Reaksi Psikologis Setelah Bencana

Bencana seperti gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, gelombang panas, longsor, erupsi gunung api, hingga badai dapat memicu tekanan emosional.

Setelah bencana berakhir, seseorang masih dapat mengalami syok, ketakutan, kebingungan, hingga rasa tidak berdaya. Perasaan tersebut dapat semakin kuat pada mereka yang kehilangan rumah, harta benda, atau orang terdekat.

Perubahan kehidupan yang terjadi secara tiba-tiba juga dapat menyebabkan gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, dan meningkatnya kecemasan.

Dampak psikologis tidak hanya dialami masyarakat yang menjadi korban atau harus mengungsi. Petugas penyelamat dan pekerja di garis depan juga berisiko mengalami stres serta kelelahan ekstrem.

Levy-Carrick mengatakan bahwa orang yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rentan dapat mengalami dampak yang lebih besar setelah bencana. Karena itu, dukungan kepada penyintas perlu diberikan dengan mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan masing-masing.

Salah satu pendekatan yang dapat diberikan segera setelah bencana adalah psychological first aid (PFA). Levy-Carrick menggambarkannya sebagai bentuk pertolongan pertama bagi otak dan tubuh setelah bencana.

PFA bertujuan membantu seseorang merasa lebih aman, mengembalikan rasa kendali, serta mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Dampaknya Bisa Berlangsung Lama

Berakhirnya situasi darurat tidak selalu berarti dampak terhadap kesehatan mental ikut berakhir. Sebagian penyintas dapat mengalami gangguan psikologis dalam jangka lebih panjang, tergantung pada pengalaman yang dialami dan dukungan yang tersedia.

Beberapa kondisi yang dapat muncul antara lain:

  • Kecemasan kronis
  • Depresi
  • Post-traumatic stress disorder (PTSD)
  • Duka mendalam

Selain itu, penyintas juga dapat mengalami survivor’s guilt, yaitu perasaan bersalah karena selamat atau merasa kehilangan yang dialami tidak sebesar orang lain yang terdampak.

Duka setelah bencana juga dapat dirasakan secara individu maupun komunitas, terutama ketika rumah, lingkungan, atau tempat yang memiliki nilai emosional mengalami kerusakan.

Bahkan, ingatan mengenai bencana dapat kembali memicu tekanan emosional ketika memasuki peringatan tahunan peristiwa tersebut.

Jika emosi terasa semakin berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari atau hubungan dengan orang lain, penyintas sebaiknya mencari dukungan. Rasa malu dan bersalah tidak seharusnya membuat seseorang menghadapi kondisi tersebut sendirian.

Pemulihan Membutuhkan Waktu

Dalam proses pemulihan, penyintas dianjurkan menerapkan strategi penanganan yang sehat, seperti mencukupi waktu tidur, menjaga pola makan, berolahraga, serta tetap terhubung dengan orang terdekat atau tenaga profesional.

Berinteraksi dengan komunitas melalui kegiatan bersama, kelompok dukungan, maupun kegiatan sukarela juga dapat membantu proses pemulihan.

Sebaliknya, pola makan dan minum yang kurang bergizi dapat menghambat kondisi tubuh selama proses pemulihan.

Masyarakat juga disarankan memperoleh informasi dari sumber terpercaya dan lebih bijak menggunakan media sosial. Informasi yang keliru dapat meningkatkan rasa takut dan kecemasan setelah bencana.

Dalam jangka panjang, pemulihan dapat dilakukan dengan perlahan membangun kembali rutinitas. Misalnya, kembali ke sekolah atau pekerjaan jika kondisi memungkinkan serta mendapatkan perawatan kesehatan mental sesuai kebutuhan.

Levy-Carrick menegaskan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu. "Selamat dan bertahan dari bencana alam adalah sebuah permulaan," ujarnya.

Menurutnya, pemulihan merupakan proses panjang yang tidak selalu berjalan secara linear.

Selain mengalami trauma, penyintas juga memiliki peluang mengalami post-traumatic growth, yaitu perkembangan positif yang dapat muncul setelah seseorang melewati pengalaman traumatis.