Hubungan Otak dan Usus Ungkap Dampak Stres pada Pencernaan

Stres bukan cuma mengganggu pikiran, tapi juga bisa memicu diare, kembung, hingga sakit perut.

Diterbitkan 08 September 2026, 18:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Stres umumnya dikaitkan dengan kondisi emosional. Namun, stres juga dapat memengaruhi sistem pencernaan. Hal ini berkaitan dengan hubungan dua arah antara otak dan usus yang memungkinkan perubahan suasana hati berdampak pada fungsi pencernaan.

Ahli gastroenterologi Holly S. Greenwald, MD, menjelaskan bahwa otak dan usus terus berkomunikasi. Hubungan ini tidak hanya menjelaskan sensasi 'perut terasa seperti dihinggapi kupu-kupu' saat gugup atau bersemangat, tapi juga mengapa stres dan emosi kuat dapat memicu berbagai gangguan pencernaan, seperti diare, kembung, kram, dan mual.

Otak dan Usus Saling Berkomunikasi

Menurut Greenwald, komunikasi antara otak dan usus berlangsung melalui saraf, hormon, serta bakteri yang hidup di saluran pencernaan, dikutip dari Temple Health pada Selasa (8/9/2026).

Sistem saraf enterik atau enteric nervous system (ENS) yang mengatur berbagai fungsi pencernaan memiliki ratusan juta sel saraf. Sistem ini dapat berkomunikasi dengan otak melalui saraf vagus.

Usus juga menghasilkan sejumlah neurotransmiter, termasuk serotonin dan dopamin. Zat kimia tersebut membantu sel saraf berkomunikasi, mengatur fungsi pencernaan, serta dapat memengaruhi suasana hati.

Sementara itu, mikrobioma usus yang terdiri dari triliunan bakteri tidak hanya membantu proses pencernaan. Mikrobioma juga berperan dalam produksi neurotransmiter dan turut memengaruhi suasana hati.

Selain itu, usus menghasilkan hingga 20 jenis hormon, termasuk melatonin yang berkaitan dengan siklus tidur dan ghrelin yang membantu mengatur rasa lapar.

Bagaimana Stres Mengganggu Pencernaan?

Saat mengalami stres atau kecemasan, otak dapat memicu respons fight-or-flight. Respons ini membuat tubuh bersiap menghadapi ancaman dengan melepaskan sejumlah hormon.

Menurut Greenwald, kondisi tersebut dapat membuat makanan bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat melalui saluran pencernaan. Akibatnya, seseorang dapat mengalami diare, sembelit, mual, hingga nyeri perut.

Stres juga dapat menyebabkan otot saluran pencernaan mengalami kejang yang terasa menyakitkan dan mengganggu kemampuan sistem pencernaan dalam menyerap nutrisi. Selain itu, stres dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma usus.

Gangguan pencernaan akibat stres biasanya bersifat sementara dan dapat membaik setelah sumber stres mereda. Namun, pada kondisi tertentu, stres dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis, seperti irritable bowel syndrome (IBS) atau functional dyspepsia, yaitu gangguan fungsional pada saluran cerna.

Siklus antara Otak dan Usus

Hubungan antara otak dan usus berlangsung dua arah. Sinyal dari usus dapat memengaruhi otak dan suasana hati, sementara stres yang berasal dari otak juga dapat memperburuk masalah pencernaan.

Greenwald mengatakan, kondisi ini membuat pengelolaan kesehatan mental menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Untuk membantu menjaga kesehatan usus, Greenwald menyarankan pola makan seimbang yang kaya buah, sayuran, dan biji-bijian utuh. Asupan juga dapat dilengkapi dengan makanan yang mengandung probiotik, seperti yogurt, untuk membantu menjaga keseimbangan bakteri di usus.

Sementara itu, beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengelola stres antara lain:

  • Rutin melakukan aktivitas fisik.
  • Tidur selama 7–9 jam setiap malam.
  • Melakukan latihan relaksasi, seperti pernapasan dalam.
  • Meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan.
  • Berbicara dengan orang terdekat.
  • Melakukan aktivitas di luar ruangan.

Jika masalah pencernaan atau sakit perut terus berulang, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan memastikan apakah ada kondisi lain yang perlu ditangani.