Liputan6.com, Jakarta - Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli seharusnya menjadi momentum untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan haknya secara utuh. Bukan hanya hak atas pendidikan dan layanan kesehatan, tapi juga hak melihat dengan jelas, memperoleh asupan gizi yang cukup, serta mengembangkan potensi terbaiknya.
Namun, Indonesia Health Development Center (IHDC) mengingatkan bahwa peringatan Hari Anak Nasional tidak akan bermakna apabila masih banyak anak yang menghadapi masalah kesehatan mendasar yang menghambat kemampuan belajar dan perkembangan otaknya.
Advertisement
Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan gangguan refraksi yang tidak dikoreksi dan kekurangan zat besi menjadi dua persoalan yang tidak boleh diabaikan. "Kalau kita bicara Hari Anak Nasional, maka lupakan masa depan anak Indonesia apabila gangguan mata mereka tidak dikoreksi dan mereka masih mengalami kekurangan zat besi," ujar Ray.
Pernyataan tersebut didasarkan pada hasil kajian Community Diagnosis IHDC yang mengidentifikasi empat determinan kesehatan dengan hubungan ilmiah kuat terhadap perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah, yakni gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.
Gangguan Mata Bisa Hambat Kognitif Anak
Ray menjelaskan bahwa masih banyak anak Indonesia yang mengalami gangguan refraksi atau mata minus tanpa mendapatkan penanganan yang tepat. Kondisi ini membuat mereka kesulitan melihat papan tulis sehingga proses belajar menjadi tidak optimal.
"Dalam penelitian kami, anak-anak sering terlihat menyipitkan mata saat melihat papan tulis. Bahkan, ketika diminta maju ke depan, mereka tetap tidak bisa melihat dengan jelas," katanya.
Menurut kajian IHDC yang diperkuat berbagai penelitian global, gangguan refraksi yang tidak dikoreksi (uncorrected refractive error) dapat menghambat perkembangan kemampuan kognitif anak.
Hal ini karena sekitar 80 persen proses belajar, pengalaman, dan stimulasi diterima melalui indera penglihatan. "Karena itu koreksinya harus dilakukan dengan kacamata. Sederhana dan relatif murah," ujar Ray.
Berdasarkan analisis estimasi IHDC, lebih dari 8 juta anak Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan yang berpotensi mengganggu proses belajar jika tidak segera ditangani.
Kekurangan Zat Besi Masih Jadi Masalah Lama
IHDC juga menyoroti tingginya kasus defisiensi zat besi pada anak. Menurut Ray, kondisi ini dapat mengganggu perkembangan otak, menurunkan konsentrasi, melemahkan working memory, hingga berdampak pada kemampuan belajar.
Ironisnya, anemia defisiensi besi bukanlah persoalan baru. "Anemia defisiensi besi adalah salah satu masalah kesehatan yang sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka.
"Sebelum Proklamasi 1945 pun anemia sudah menjadi masalah besar. Kita sudah puluhan tahun merdeka, tapi persoalan ini belum juga selesai," ujarnya.
IHDC memperkirakan lebih dari 7 juta balita mengalami defisiensi zat besi. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.
Selain itu, masih banyak anak Indonesia yang belum memenuhi kebutuhan protein hariannya. Padahal, protein berperan penting dalam mendukung pertumbuhan otak dan kemampuan anak menyerap berbagai stimulasi selama proses belajar.
Indonesia Hadapi Silent Cognitive Burden
Berdasarkan hasil kajian tersebut, IHDC memperkenalkan istilah Silent Cognitive Burden atau beban kognitif senyap. Kondisi ini menggambarkan ancaman yang muncul ketika gangguan penglihatan, defisiensi zat besi, kekurangan protein, dan gangguan perilaku terjadi secara bersamaan sehingga menghambat perkembangan kapasitas kognitif anak.
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, Prof. Nila F. Moeloek, mengatakan persoalan tersebut tidak boleh lagi dipandang sebagai masalah kesehatan individu semata.
"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Nila.
Menurut IHDC, tanpa intervensi yang lebih masif melalui skrining gangguan penglihatan, perbaikan gizi, dan deteksi dini gangguan perilaku, Indonesia berisiko kehilangan potensi jutaan anak yang seharusnya menjadi generasi produktif menuju Indonesia Emas 2045.