Prediabetes, Alarm Sebelum Diabetes yang Tak Boleh Diabaikan

Prediabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah di atas batas normal. Apakah bisa dicegah menjadi diabetes?

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 03 Agustus 2026, 10:00 WIB
Ilustrasi oleh Unsplash.

Liputan6.com, Jakarta - Prediabetes menjadi kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda awal sebelum seseorang mengalami diabetes tipe 2. Namun, berbeda dengan diabetes, kondisi ini masih memiliki peluang untuk dikendalikan bahkan dikembalikan ke kadar gula darah normal melalui perubahan gaya hidup.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin metabolik Ali Baswedan, mengatakan prediabetes dapat diibaratkan sebagai "lampu kuning" yang menjadi peringatan bagi seseorang untuk mulai memperbaiki pola hidup.

"Prediabetes itu lampu kuning, suatu kondisi yang mengarah ke diabetes tipe 2, tetapi masih memungkinkan untuk kembali normal," ujar Ali.

Menurutnya, salah satu langkah penting untuk mengendalikan prediabetes adalah menurunkan berat badan, terutama dengan mengurangi lemak tubuh di area perut. Lemak berlebih, khususnya di sekitar perut, dapat mengganggu kerja insulin atau menurunkan sensitivitas insulin.

Akibatnya, gula dalam darah menjadi lebih sulit masuk ke dalam sel tubuh sehingga kadar gula darah meningkat.

"Kelebihan berat badan, terutama lemak di sekitar perut, melemahkan kemampuan kerja insulin atau menurunkan sensitivitas insulin. Akibatnya, gula darah cenderung meningkat dan meningkatkan risiko munculnya prediabetes," jelas Ali mengutip laman resmi UGM. 

 

Turun Berat Badan 7 Persen Bisa Turunkan Risiko Diabetes

Ali menjelaskan, penelitian menunjukkan penurunan berat badan sekitar 7 persen dari berat awal sudah terbukti dapat menurunkan risiko seseorang berkembang menjadi diabetes.

Penurunan berat badan juga tidak hanya dilihat dari angka di timbangan. Hal yang lebih penting adalah berkurangnya jumlah lemak tubuh, meningkatnya massa otot, serta membaiknya metabolisme tubuh.

"Target diet bukan sekadar berapa kilogram penurunan berat badan, tetapi perubahan berupa lemak dalam badan berkurang yang mampu meningkatkan kemampuan kerja insulin," katanya.

Menurut Ali, peningkatan massa otot juga membantu tubuh mengelola gula darah karena otot menjadi tempat pembakaran glukosa. Karena itu, kombinasi latihan beban untuk membangun otot dan olahraga aerobik menjadi pilihan yang memberikan manfaat lebih baik.

 

Tidak Semua Prediabetes Berakhir Menjadi Diabetes

Meski prediabetes meningkatkan risiko diabetes tipe 2, Ali mengatakan kondisi tersebut tidak selalu berujung menjadi diabetes. Keberhasilan mengembalikan kadar gula darah bergantung pada berbagai faktor, seperti lamanya seseorang mengalami prediabetes, kondisi pankreas, serta kemampuan mempertahankan berat badan.

"Pada sebagian orang yang mengalami kesembuhan prediabetes atau gula darah kembali normal, penurunan berat badan akan sangat bermakna. Akan tetapi, hasilnya tergantung pada lamanya prediabetes, kondisi pankreas, dan kemampuan mempertahankan berat badan," ujarnya.

Ia mengingatkan, berat badan yang kembali meningkat dapat membuat kondisi prediabetes muncul kembali. Karena itu, perubahan gaya hidup perlu dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.

Menurut Ali, pencegahan diabetes tidak selalu harus dimulai dengan obat. Pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, serta menjaga berat badan tetap sehat menjadi langkah utama untuk membantu mengendalikan kadar gula darah.

"Kuncinya bukan obat, tetapi perubahan gaya hidup jangka panjang yang konsisten," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya