Liputan6.com, Jakarta - Demam Berdarah Dengue (DBD) memang menunjukkan tren penurunan di Indonesia. Namun, kondisi ini bukan berarti masyarakat boleh lengah.
Penularan virus dengue masih terjadi dan risiko wabah tetap ada apabila upaya pencegahan mulai diabaikan. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sepanjang 2025 terdapat 161.752 kasus DBD dengan 673 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,42 persen.
Advertisement
Sementara hingga pertengahan 2026, tercatat 39.672 kasus dengan 105 kematian. Meski lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, DBD masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini umumnya aktif menggigit pada pagi hingga sore hari serta berkembang biak di genangan air bersih di sekitar rumah. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah utama untuk memutus rantai penularan.
Siapa yang rentan terkena DBD? Risiko DBD lebih tinggi pada masyarakat yang tinggal atau bepergian ke wilayah tropis. Selain itu, seseorang yang pernah terinfeksi virus dengue berpotensi mengalami gejala yang lebih berat apabila terinfeksi kembali.
DBD menyerang anak usia berapa? Anak-anak juga menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan data Kemenkes, kelompok umur 15 s.d 44 tahun memang menyumbang 42 persen dari total kasus DBD.
Namun, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada anak usia 5-14 tahun, yakni mencapai 41 persen.
Tingginya risiko pada anak tidak lepas dari aktivitas mereka yang lebih banyak bermain di luar rumah maupun di lingkungan sekolah. Jika terdapat genangan air atau tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, peluang tergigit nyamuk pembawa virus dengue pun meningkat.
Bagaimana ciri-ciri anak kena DBD? Gejala DBD pada anak umumnya diawali dengan demam tinggi mendadak selama dua hingga tujuh hari, disertai sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta muncul ruam pada kulit.
Pada kondisi yang lebih berat, dapat muncul tanda perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, atau bintik-bintik merah pada kulit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan pentingnya penanganan sejak dini. Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila demam tinggi berlangsung lebih dari dua hari.
Terutama jika disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, anak tampak sangat lemas, atau muncul tanda-tanda perdarahan.
Hingga kini, pengendalian sarang nyamuk masih menjadi cara paling efektif untuk menekan penyebaran DBD.
Pengendalian DBD Butuh Kolaborasi Semua Pihak
Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI yang diwakili Dr. Agus Handito menegaskan bahwa pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. "Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja," katanya.
Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan.
"Pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030," ujar Agus.
Lebih lanjut Agus menambahkan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+.
Langkah "Plus" mencakup berbagai perlindungan tambahan, seperti menggunakan losion antinyamuk, memasang kelambu atau kasa pada ventilasi, mengenakan pakaian berlengan panjang saat diperlukan, serta menghindari gigitan nyamuk, terutama pada pagi dan sore hari ketika Aedes aegypti paling aktif.
Dengan begitu, budaya pencegahan DBD dapat diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Gerakan 3M+ Diharapkan Menjadi Kebiasaan
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui kolaborasi Enesis Group melalui merek Soffell bersama Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta dalam program CSR ASEAN Dengue Day 2026 bertema Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN.
Program ini menghadirkan edukasi interaktif di sejumlah sekolah dasar di Jakarta untuk menanamkan pentingnya pencegahan DBD sejak dini.
Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, RM Ardiantara, berharap edukasi tersebut mampu mendorong masyarakat menjadikan pencegahan DBD sebagai kebiasaan.
"Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat," kata Ardiantara.
Dia, menambahkan, Enesis Group berharap Gerakan Bebas Dengue yang dimulai dari Indonesia dapat menginspirasi lahirnya inisiatif serupa di berbagai negara ASEAN.