Liputan6.com, Jakarta - Diabetes tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak juga bisa mengidap penyakit ini, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Meski sama-sama menyebabkan kadar gula darah tinggi, kedua jenis diabetes tersebut memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes sekaligus Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, mengatakan, diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh sudah tidak lagi mampu memproduksi insulin. Akibatnya, anak harus mendapatkan terapi insulin seumur hidup.
Advertisement
"Diabetes tipe 1 sejak bayi, artinya bayi tersebut sudah tidak bisa memproduksi insulin sehingga membutuhkannya sepanjang hidup," kata Ida dalam diskusi media 'End-to-End Diabetes Ecosystem Support' bersama Kalbe di Jakarta pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Karena tubuh tidak lagi menghasilkan insulin, kadar gula darah dapat meningkat sangat tinggi. Pada sebagian kasus, diabetes tipe 1 baru terdiagnosis ketika kondisi anak sudah berat hingga mengalami penurunan kesadaran.
Menurut Ida, terapi insulin menjadi satu-satunya penanganan yang tidak bisa digantikan. "Insulin sudah harga mati," tambahnya.
Edukasi Orang Tua Sangat Penting
Selain menjalani terapi insulin, keluarga juga perlu memahami cara mengelola diabetes tipe 1 pada anak. Edukasi menjadi bagian penting agar pengobatan berjalan optimal.
Orang tua harus mengetahui cara menggunakan insulin, menghitung dosis yang tepat, serta menyesuaikannya dengan pola makan anak. Langkah ini penting untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkontrol.
Diabetes Tipe 2 Berbeda
Berbeda dengan diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 terjadi ketika pankreas masih mampu menghasilkan insulin. Namun, hormon tersebut tidak bekerja secara optimal sehingga kadar gula darah tetap meningkat.
Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya kelebihan berat badan.
"Kalau tipe 2, pankreas bisa menghasilkan insulin, tapi karena satu dan lain hal seperti kelebihan berat badan, sehingga insulin tidak bisa bekerja dengan baik," ujar Ida.
Jika diabetes tipe 2 terdiagnosis, penanganannya dapat berupa pemberian obat. Sementara pada anak yang mengalami obesitas, perubahan pola hidup dan pengendalian berat badan menjadi bagian penting dari terapi.
Waspadai Gejalanya
Ida menjelaskan gejala diabetes tipe 2 pada anak umumnya mirip dengan yang dialami orang dewasa. Namun, gejalanya sering kali tidak begitu jelas sehingga mudah terlewat.
Salah satu perubahan yang patut diwaspadai adalah ketika nafsu makan anak tiba-tiba meningkat dibandingkan biasanya.
"Jadi bisa dirasakan, bisa tidak dirasakan. Jadi orang tua harus jeli, anak ini kok sekarang makannya banyak banget nih, nggak kayak biasa," ujarnya.
Selain mengenali gejala, orang tua juga perlu memperhatikan faktor risiko dalam keluarga, seperti riwayat diabetes pada orang tua maupun kakek dan nenek.
"Apakah orang tua atau nenek kakek ada diabetes? Itu harus diperhatikan," kata Ida.