Cerita Epie Menghadapi Diabetes, Sempat Mengira Penyakit Ini Mematikan

Epie sempat mengira diabetes mematikan. Simak bagaimana edukasi mengubah cara pandangnya.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 04 Agustus 2026, 20:05 WIB
Epie Suryono membagikan pengalamannya saat pertama kali didiagnosis diabetes. Ia mengaku sempat menganggap diabetes sebagai penyakit mematikan sebelum akhirnya memahami pentingnya edukasi. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak penyandang diabetes tidak langsung menerima diagnosis yang disampaikan dokter. Sebagian bahkan merasa dirinya sehat karena tidak mengalami keluhan berarti. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang berada dalam fase penyangkalan (denial) dan menunda pengobatan.

Pengalaman itu pernah dirasakan Epie Suryono, anggota Komunitas Pandu Diabetes. Dalam diskusi End-to-End Diabetes Ecosystem Support yang diselenggarakan Kalbe pada Selasa (4/8/2026), Epie mengaku sempat tidak percaya ketika divonis mengidap diabetes.

Menurutnya, sikap denial merupakan hal yang umum terjadi pada penyandang diabetes, terutama karena penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

"Penyandang diabetes bisa dibilang mayoritas denial, karena saya enggak rasa sakit, makan tetap enak…" ujar Epie.

Saat pertama kali menerima diagnosis, yang terlintas di benak Epie bukanlah cara mengelola penyakitnya, melainkan rasa takut. Dia mengaku langsung menganggap diabetes sebagai penyakit yang mematikan.

"Waktu dokter bilang bapak kena diabetes, saya langsung berpikir diabetes itu penyakit yang mematikan," kata Epie.

Namun, setelah mendapatkan edukasi yang benar, pandangannya mulai berubah. Epie menyadari bahwa diabetes bukan akhir dari segalanya. Penyakit ini tetap bisa dikendalikan selama pasien menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Edukasi Mengubah Cara Pandang Pasien

Sejak bergabung dengan Komunitas Pandu Diabetes pada 2007, Epie banyak belajar mengenai pengelolaan diabetes. Kini, dia juga aktif mendampingi pasien lain yang baru menerima diagnosis.

Menurutnya, banyak pasien datang dengan kondisi stres dan putus asa karena menganggap diabetes tidak bisa diobati. Tak sedikit pula yang takut menjalani terapi, termasuk penggunaan insulin.

Padahal, Epie sendiri telah menjalani terapi insulin selama sekitar 15 tahun. Dia menilai masih banyak stigma di masyarakat yang menganggap insulin sebagai tanda penyakit sudah parah, padahal keputusan penggunaan insulin bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

"Orang mungkin berpikir insulin itu berat. Namun, secara edukasi, angka di laboratorium lebih bagus karena pakai insulin. Sebenarnya, bukan ini salah, bukan ini benar, tapi (tetap bagaimana) tahapan pengobatannya," ujar Epie.

Oleh sebab itu, dia menekankan pentingnya edukasi agar pasien memahami bahwa pengobatan diabetes merupakan proses jangka panjang.

Jika kondisi sudah memasuki tahap yang lebih serius, pasien juga diimbau segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Edukasi Jadi Kunci Penanganan Diabetes

Pesan Epie sejalan dengan yang disampaikan Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), Dr. dr. K. Heri Nugroho, Sp.PD-KEMD, FINASIM. Menurutnya, edukasi merupakan fondasi utama dalam tata laksana diabetes.

"Yang paling penting dan paling sulit adalah edukasi," ujar Heri.

Heri menjelaskan bahwa pengobatan diabetes tidak hanya bergantung pada obat-obatan. Pasien juga perlu menerapkan pola makan sehat, rutin beraktivitas fisik, memantau kadar gula darah, serta memahami penyakit yang dideritanya agar pengobatan berjalan optimal.

Sementara itu, Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed., mengatakan perjalanan pasien diabetes tidak berhenti setelah menerima diagnosis.

Menurutnya, pasien umumnya akan melalui berbagai fase, mulai dari penyangkalan (denial), menerima kondisi (acceptance), hingga menjalani pengobatan dan pemantauan jangka panjang.

Oleh karena itu, dukungan tenaga kesehatan, keluarga, dan komunitas menjadi faktor penting agar pasien tetap konsisten menjalani terapi dan mampu mempertahankan kualitas hidup yang baik.

Menutup sesi diskusi, Epie kembali menegaskan pesan yang menurutnya paling penting bagi setiap penyandang diabetes.

"Edukasi, edukasi, edukasi," pungkas Epie.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya