Pasien Diabetes Tak Wajib Ganti Nasi Putih Jadi Nasi Merah atau Shirataki

Nasi putih bukan musuh utama diabetes. Ketahui aturan makan yang benar menurut dokter.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 05 Agustus 2026, 18:57 WIB
Ketua Persatuan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, S.Pd., KEMD, menegaskan pasien diabetes tidak harus memaksakan diri mengganti nasi putih dengan nasi merah atau shirataki. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak orang percaya bahwa pasien diabetes harus berhenti makan nasi putih dan beralih ke nasi merah atau nasi shirataki agar gula darah lebih terkontrol. Namun, benarkah mengganti jenis nasi menjadi kunci utama dalam mengelola diabetes?

Ketua Persatuan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, S.Pd., KEMD mengatakan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, pengaturan nutrisi pada penyandang diabetes bersifat sangat individual sehingga tidak ada aturan yang mewajibkan semua pasien mengganti nasi putih dengan jenis nasi lainnya.

Ida menjelaskan bahwa nasi merah, nasi shirataki, maupun jenis nasi lain boleh dikonsumsi jika memang disukai. Namun, jika tidak cocok dengan selera atau harganya terlalu mahal, pasien tidak perlu memaksakan diri.

Menurutnya, kunci utama pengelolaan diabetes bukan terletak pada jenis nasi yang dikonsumsi, melainkan pada jumlah asupan, porsi makan, dan total kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

"Yang penting adalah asupan terjaga, sesuai dengan jumlah seharusnya. Itu individual sifatnya. Nasi lainnya diperbolehkan jika memang suka. Kalau tidak suka, apalagi mahal, jangan dipaksakan dan malah justru berdampak pada kesehatan mental karena stres," ujar Ida dalam acara End-to-End Diabetes Ecosystem Support bersama Kalbe di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Lebih lanjut, Ida menambahkan bahwa pola makan pasien diabetes harus dapat dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang (sustainable).

Memaksakan diri mengonsumsi makanan yang tidak disukai justru berisiko menimbulkan stres dan membuat pola makan sehat sulit dipertahankan. "Suka lain-lain silakan, tapi sustainable," kata Ida.

Oleh sebab itu, pasien diabetes tetap boleh makan nasi putih selama porsinya disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian dan komposisi gizi seimbang, yakni karbohidrat, protein, dan lemak.

"Boleh makan apa saja, dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemaknya seperti yang ditentukan," tambahnya.

Gejala Diabetes Sering Tidak Disadari

Selain mengatur pola makan, Ida juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala awal diabetes.

Tidak sedikit pasien baru mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah kadar gula darah sudah tinggi karena mengabaikan tanda-tanda yang muncul.

Menurut Ida, gejala diabetes umumnya mulai terasa ketika kadar gula darah melebihi 180 mg/dL. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Sering merasa haus dan tenggorokan mudah kering.
  • Lebih sering buang air kecil, terutama pada malam hari.
  • Berat badan terus menurun meski nafsu makan meningkat.
  • Tubuh mudah lelah tanpa penyebab yang jelas.

Ida, menambahkan, diabetes merupakan penyakit yang harus dikelola seumur hidup. Oleh karena itu, keberhasilan pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada pilihan makanan tapi juga pada pola makan yang konsisten, edukasi yang baik, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin agar kualitas hidup tetap terjaga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya