Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kesehatan pencernaan anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan gizi. Anak juga perlu mendapatkan asupan prebiotik dan probiotik yang sebenarnya bisa diperoleh dari makanan sehari-hari.
Prebiotik merupakan nutrisi yang menjadi makanan bagi bakteri baik di dalam usus, sedangkan probiotik adalah bakteri baik itu sendiri.
Advertisement
Dalam acara Global Advances and Insight on Biotics for Child Health yang digelar Danone Indonesia di Jakarta, Kamis (6/8/2026), Direktur Medical and Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa sumber prebiotik dan probiotik cukup mudah ditemukan.
"Prebiotik itu paling gampang didapat dari makanan sehari-hari melalui serat. Ada penelitian yang menunjukkan pisang mengandung serat yang berperan sebagai prebiotik. Sementara probiotik bisa diperoleh dari makanan yang difermentasi," ujar Ray.
Namun, menurut Ray, memenuhi kebutuhan prebiotik dan probiotik dari makanan alami saja tidak selalu mudah. Kedua komponen ini tergolong sensitif sehingga manfaatnya dapat berkurang jika proses pengolahan tidak higienis atau dikonsumsi secara terpisah.
"Prebiotik dan probiotik itu gampang banget rusak. Gampang banget tidak memberikan efek yang maksimal kalau dimakan sendiri-sendiri atau kalau prosesnya tidak higienis. Itu sebabnya teknologi pangan penting untuk menggabungkan keduanya dalam komposisi sinbiotik," katanya.
Ray menjelaskan, pengolahan makanan yang kurang higienis di rumah dapat menurunkan efektivitas bakteri baik.
Oleh sebab itu, kombinasi prebiotik, seperti FOS dan GOS, dengan probiotik Bifidobacterium breve dalam bentuk sinbiotik yang diproduksi melalui teknologi pangan dinilai telah terbukti secara klinis memberikan manfaat yang lebih optimal.
Kapan Anak Mulai Membutuhkan Sinbiotik?
Ray mengatakan bahwa waktu pemberian nutrisi juga perlu disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak agar manfaatnya optimal untuk menjaga daya tahan tubuh, mengurangi risiko anak mudah sakit, serta mendukung komunikasi antara usus dan otak (gut-brain axis).
Pada usia 0-6 bulan, baik bayi yang lahir normal maupun melalui operasi Caesar, ASI eksklusif tetap menjadi asupan terbaik.
"Nggak boleh diganggu gugat, harus kasih ASI eksklusif. ASI saja," tegas Ray.
Memasuki usia 6 bulan, bayi mulai mendapatkan MPASI yang beragam dengan memastikan kebutuhan protein hewani terpenuhi.
Sementara itu, setelah berusia 1 tahun, anak sudah dapat mengonsumsi makanan keluarga. Pada fase ini, salah satu pendekatan yang didukung bukti ilmiah adalah pemberian susu pertumbuhan yang diperkaya sinbiotik.
Menurut Ray, manfaat sinbiotik paling optimal bila diberikan pada usia 1-2 tahun. Setelah anak berusia di atas 2 hingga 3 tahun, pemberian sinbiotik tetap bermanfaat untuk mempertahankan kesehatan usus dan memberikan efek perlindungan jangka panjang.
"Asupan sinbiotik itu akan memberikan efek yang luar biasa maksimal, tapi di atas 2 tahun, di atas 3 tahun pemberian itu hanya lebih ke maintaining supaya menjaga long-term effect," pungkasnya.