Liputan6.com, Jakarta - Hepatitis B sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderitanya tidak menyadari telah terinfeksi. Kerap kali penyakit ini baru terdeteksi saat seseorang menjalani medical check-up (MCU).
"Pasien datang setelah medical check up, ternyata hepatitis B positif. Padahal usianya sudah 50 tahun bahkan lebih dan selama ini merasa sehat-sehat saja," ujar dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Dedy G. Sudrajat dari RS EMC Grha Kedoya Jakarta.
Advertisement
Saat ini, tren masyarakat yang semakin rutin menjalani pemeriksaan kesehatan juga membuat kasus hepatitis B mulai banyak terdeteksi pada usia yang lebih muda, termasuk mereka yang berusia 30-an.
Setelah ditelusuri, sebagian di antaranya memiliki riwayat anggota keluarga yang meninggal akibat penyakit hati, meski penyebab pastinya tidak pernah diketahui.
"Kadang pasien bilang orangtuanya meninggal karena penyakit hati, tetapi tidak pernah diperiksa. Riwayat seperti itu sebaiknya menjadi pengingat untuk melakukan pemeriksaan hepatitis B," pesan Dedy dalam program Healthy Hour bersama Liputan6.
Selain saat MCU, seseorang ketahuan positif hepatitis B ketika menjalani pemeriksaan pranikah di puskesmas atau skrining ibu hamil pada trimester pertama seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, D, dari RS EMC Pulomas Jakarta dalam kesempatan yang sama.
"Jadi ketemunya itu accidental, mereka enggak ada rencana tapi pas pas pemeriksaan ketemu," tutur Chyntia.
Kenapa Infeksi Hepatitis B Tahap Awal Tanpa Gejala?
Cynthia mengungkapkan pada sebagian pasien, hepatitis B baru terdiagnosis ketika penyakit sudah berkembang menjadi lebih berat. Pada kondisi ini biasanya sudah menimbulkan gejala.
"Kalau sudah bergejala, pasien sering datang dalam kondisi sirosis, penyakit hati stadium akhir, bahkan kanker hati," kata Chyntia.
Dokter yang menyelesaikan pendidikan dokter spesialis ilmu penyakit dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan hati merupakan organ yang tidak memiliki banyak ujung saraf nyeri. Karena itu, kerusakan hati dapat berlangsung secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang membuat penderitanya segera memeriksakan diri.
"Kondisi inilah yang membuat hepatitis B menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai. Banyak orang merasa sehat, padahal kerusakan hati terus berjalan," jelasnya.
Karena itu, kedua dokter mengingatkan pentingnya deteksi dini, terutama bagi orang yang memiliki riwayat penyakit hati dalam keluarga, belum pernah menjalani pemeriksaan hepatitis B, atau termasuk kelompok yang lahir sebelum program imunisasi hepatitis B mulai diterapkan secara luas.
Semakin cepat hepatitis B terdeteksi, semakin besar peluang untuk mengendalikan infeksi dan mencegah komplikasi serius seperti sirosis maupun kanker hati.
Bagaimana Penularan Hepatitis B?
Virus hepatitis B juga C adalah jenis infeksi virus yang paling sering berkembang menjadi kronis. Virus ini tidak dapat sepenuhnya hilang dari tubuh tapi dengan pengobatan sedini mungkin bisa dicegah agar tak menjadi sirosis maupun kanker hati.
"Untuk seseorang yang terinfeksi hepatitis B, ini PR ya. Ya paling kita bisa menghambat untuk menjadi sirosis agar virus tertekan sehingga risiko untuk menjadi kanker hati juga bisa ditekan," kata Chyntia.
"Oleh sebab itu sebaiknya dicegah agar tidak tertular," tekannya.
Lalu, bagaimana mencegah penularan hepatitis B?
Untuk mencegah berarti penting untuk mengetahui cara penularan virus tersebut. Penularan hepatitis B dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita. Seperti kontak dengan termasuk darah, urine, air mani, dan cairan vagina.
Kontak yang menyebabkan penularan hepatitis B terjadi melalui beberapa cara berikut:
- Melakukan hubungan seksual dengan penderita hepatitis.
- Penggunaan pisau cukur, gunting kuku, maupun sikat gigi secara bergantian.
- Penggunaan jarum suntik secara bergantian.
- Proses persalinan jika ibu dengan hepatitis melahirkan bayi secara pervaginam/persalinan normal.
- Paparan cairan tubuh penderita hepatitis melalui luka
- Tertusuk jarum maupun benda tajam akibat menjalani prosedur medis yang kurang aman.