Liputan6.com, Jakarta - Operasi mata juling atau strabismus menjadi salah satu pilihan penanganan untuk membantu mengembalikan posisi mata agar lebih sejajar.
Namun, Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) mengatakan bahwa mata yang terlihat lurus setelah operasi belum tentu langsung berada dalam kondisi yang benar-benar stabil.
Advertisement
Gusti mengibaratkan kondisi tersebut seperti pohon yang baru ditanam. Pohon memang sudah dapat berdiri tegak tapi akarnya belum langsung kuat.
"Kalau saya nanam pohon, apakah begitu saya nanam pohon langsung berakar? Nggak langsung, ya. Dia tegak, memang tegak, tapi belum steady. Nanti kalau akarnya sudah tumbuh, penyangganya kita lepas pun dia tetap tegak," ujar Gusti.
Hal yang sama berlaku setelah operasi mata juling. Sehari setelah operasi, posisi mata pasien bisa terlihat sudah lurus dan bagus. Namun, kondisi tersebut belum berarti otot mata sudah melekat sepenuhnya pada posisi yang baru.
"Kalau misalnya hari ini saya operasi orang, kemudian besok penglihatannya sudah lurus, sudah bagus banget, berdudukannya bagus. Tapi bukan berarti ototnya sudah nempel itu. Tapi yang nempel itu karena jahitan. Karena kita jahit, jadi kita berharap nanti dia nempel persis di situ," katanya.
Menurut Gusti, kondisi setelah operasi juga dipengaruhi proses penyembuhan, termasuk perubahan pada jaringan parut. Jika tidak terjadi perubahan yang berlebihan selama proses tersebut, posisi mata dapat bertahan seperti yang diharapkan.
Mata Bisa Kembali Bergeser Setelah Operasi
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah mata yang sudah dioperasi bisa kembali bergeser. Menurut Gusti, tidak ada dokter yang dapat menjamin 100 persen bahwa posisi mata akan selalu bertahan sepanjang hidup.
"Tidak seorang pun berani menjamin 100 persen bahwa kalau sudah diperbaiki, pasti selama hidupnya tidak. Oh, tadinya tidak juling, ada yang menjadi juling. Apalagi yang sudah pernah juling," ujar Gusti.
Dia menjelaskan bahwa masalah strabismus atau mata juling sebenarnya berkaitan dengan koordinasi di otak. Namun, karena bagian tersebut tidak dapat dijangkau melalui operasi, tindakan dilakukan pada otot mata.
"Karena sebetulnya kan konsepnya adalah masalahnya ada di kepala, koordinasi di kepala. Tapi kita operasi otot mata karena kita tidak kuasa untuk menjangkau petaknya. Kita perbaiki," ujarnya.
Dalam operasi strabismus, dokter dapat melemahkan otot yang terlalu kuat dan menguatkan otot yang terlalu lemah. Konsep tersebut dikenal sebagai weakening dan strengthening, serta terdapat teknik lain yang disebut transposition.
"Kalau yang terlalu kuat, terlalu kita anggap kuat, kita lemahkan. Yang terlalu lemah, kita kuatkan. Konsepnya, dasarnya itu weakening dan strengthening," kata Gusti.
Hasil Operasi Tidak Selalu Sama pada Setiap Pasien
Dr. Gusti mengatakan sebagian pasien dapat mempertahankan hasil operasi dalam waktu lama, bahkan seumur hidup. Namun, pada sebagian lainnya, posisi mata dapat kembali bergeser.
"Jadi, secara besar, ada yang bertahan lama, bahkan selamanya. Ada juga sekian persen, mungkin 30–40 persen, dia bergeser, walaupun mungkin tidak sejauh," tambahnya.
Bahkan, perubahan arah juling juga mungkin terjadi. Mata yang sebelumnya juling ke dalam dapat menjadi juling ke luar setelah operasi. Hal tersebut dapat terjadi jika berbagai faktor yang memengaruhi posisi mata tidak diperhitungkan secara tepat.
"Apakah bisa orang yang tadi julingnya ke dalam, operasi, jadi julingnya malah keluar? Itu bisa terjadi kalau kita tidak hati-hati memperhitungkan apa-apa yang terjadi di dalam otaknya sendiri," ujar Gusti.
Oleh sebab itu, operasi mata juling merupakan upaya untuk memperbaiki posisi mata, tapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi berbagai faktor.
Dokter akan memperhitungkan kondisi pasien sebaik mungkin sebelum menentukan tindakan. "Seperti kita pahami, apa yang dilakukan dokter itu adalah sebatas upaya. Upaya untuk mencoba memulihkan apa-apa yang kita anggap belum benar," pungkasnya.