Mata Juling pada Anak, Kapan Harus Operasi dan Kapan Tidak?

Mata juling pada anak ternyata tak selalu membutuhkan operasi. Simak penjelasan dokter dan penyebabnya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 11 Agustus 2026, 14:00 WIB
Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), menjelaskan mata juling tak selalu perlu operasi. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - strabismus">strabismus adalahMelihat anak mengalami mata juling mungkin langsung membuat orang tua berpikir bahwa operasi adalah satu-satunya solusi. Padahal, tidak semua mata juling pada anak harus berakhir di meja operasi.

Ada jenis mata juling yang justru dapat membaik hanya dengan penggunaan kacamata. Namun, ada pula kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk operasi. Lantas, kapan mata juling pada anak cukup ditangani dengan kacamata dan kapan perlu tindakan bedah?

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) menekankan bahwa tidak semua pasien strabismus membutuhkan operasi.

"Tidak semua pasien strabismus harus bedah," kata Gusti.

Mata Juling Bisa Diatasi dengan Kacamata

Salah satu kondisi yang tidak selalu membutuhkan operasi adalah juling akomodatif. Kondisi ini dapat terjadi pada anak dengan hipermetropia atau rabun dekat.

Pada hipermetropia, bola mata relatif lebih pendek sehingga fokus cahaya jatuh di belakang retina. Untuk membuat penglihatan lebih jelas, mata berusaha melakukan akomodasi. Proses tersebut dapat menyebabkan mata bergerak ke arah dalam sehingga tampak juling.

"Pada saat dia berakomodasi untuk melihat jelas, di situlah dia membutuhkan kacamata. Supaya kita berikan kacamata, julingnya jadi hilang," ujar Gusti.

Dengan demikian, jika posisi mata dapat kembali lurus setelah kelainan refraksi dikoreksi menggunakan kacamata, anak tidak selalu membutuhkan operasi.

Namun, apabila mata masih terlihat juling meski sudah menggunakan kacamata, dokter dapat mempertimbangkan penanganan lain sesuai kondisi masing-masing pasien, termasuk tindakan bedah.

Mata Juling Tidak Selalu Muncul Sejak Lahir

Gusti juga menjelaskan bahwa mata juling tidak selalu sudah terlihat sejak anak lahir. Ada anak yang awalnya memiliki posisi mata normal, tapi kemudian mengalami juling.

Salah satunya adalah juling intermiten, yakni kondisi ketika mata juling hanya muncul sesekali dan pada waktu tertentu kembali terlihat lurus.

"Intermiten itu artinya kadang-kadang muncul, kadang-kadang tidak. Itu bisa terjadi belakangan, tidak dari awal. Sehingga disebut juling yang didapat, bukan juling kongenital," ujar Gusti.

Menurut Gusti, juling kongenital terjadi sejak usia sangat dini, sedangkan juling yang didapat muncul setelahnya. Oleh sebab itu, perubahan posisi mata yang baru terlihat sebaiknya tidak diabaikan.

Orang Dewasa Juga Bisa Tiba-Tiba Juling

Mata juling juga dapat muncul pada orang dewasa. Bahkan, kondisi tersebut bisa terjadi secara tiba-tiba dan berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu.

"Misalkan, contoh, pada pasien hipertensi terjadi sesuatu pada otaknya sehingga jadi juling," kata Gusti.

Pada pasien diabetes, seseorang yang sebelumnya dapat melihat normal juga dapat tiba-tiba mengalami penglihatan ganda atau double vision. Kondisi seperti ini membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap mata juling pada anak pasti membutuhkan operasi.

Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang paling sesuai.

Pada sebagian anak, kacamata dapat menjadi pilihan utama. Sementara itu, operasi dipertimbangkan apabila posisi mata masih tidak lurus atau kondisi tidak dapat dikoreksi secara optimal dengan penanganan nonbedah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya