Liputan6.com, Jakarta - Cinta memang aspek penting dalam hubungan. Namun, cinta saja tak cukup agar hubungan langgeng atau awet selamanya.
Dalam perjalanan kehidupan pasti ada naik turun serta badai yang menerpa. Untuk menghadapi itu semua tak cukup kuat dengan cinta. Psikoterapis yang juga telah menikah lebih dari 20 tahun, Niro Feliciano, mengungkapkan lima hal yang penting untuk membangun hubungan yang sehat dan bertahan dalam jangka panjang.
Advertisement
1. Beri Rasa Aman
Menurut Harvard Medical School, rasa aman merupakan bagian penting untuk membuat seseorang merasa dicintai. Lebih dari sekadar kasih sayang, kemampuan mengatur emosi dalam hubungan dapat menumbuhkan perasaan hangat dan terhubung satu sama lain.
Ketika hubungan berada dalam suasana yang emosinya lebih terkendali, oksitosin, zat kimia dalam tubuh yang berperan dalam ikatan emosional, meningkat dan respons masing-masing pasangan menjadi lebih dapat diprediksi sehingga koneksi emosional lebih mudah terbentuk.
Ritual sederhana seperti makan bersama dalam waktu yang cukup lama, menikmati pagi dengan santai, atau berbincang sejenak sebelum tidur dapat membantu menjaga emosi tetap terkendali dalam hubungan.
2. Saling Menghormati Perbedaan
Perbedaan pendapat tidak bisa dihindari dalam hubungan apa pun. Namun, ketika pertengkaran mulai menjadi serangan pribadi atau tujuan perdebatan berubah dari mencari solusi menjadi sekadar ingin menang atau menyakiti pasangan, ada masalah yang perlu diperhatikan.
"Anda boleh marah, terluka, atau frustrasi. Namun, dalam hubungan yang sehat, ada batas yang tidak dilanggar. Anda tetap berusaha melindungi orang yang Anda cintai, bahkan ketika pada saat itu Anda sedang tidak menyukainya," tutur Niro mengutip Today.
Bagaimana caranya? Kuncinya adalah mengatur emosi.
"Tarik napas, berjalan-jalan sejenak, ubah sudut pandang, dan ingat kembali alasan yang dulu membuat Anda tertarik kepada pasangan. Dengan begitu, Anda dapat merespons situasi, bukan sekadar bereaksi secara spontan," pesannya.
Terapi perilaku dialektis atau dialectical behavior therapy (DBT) juga dapat membantu seseorang mengembangkan keterampilan untuk mengelola emosi dan reaksi dengan lebih baik.
3. Rasa Ingin Tahu
Anda dan pasangan akan tumbuh dan berubah sepanjang perjalanan hubungan, bahkan mungkin berkembang dengan cara yang berbeda. Rasa ingin tahu membuat cinta dalam hubungan jangka panjang tetap hidup.
Rasa ingin tahu juga penting ketika menghadapi konflik. Kita perlu mendekati pasangan dengan keinginan untuk memahami mengapa mereka berpikir dan merasakan sesuatu secara berbeda, bukan langsung membuat asumsi.
:Hubungan justru dapat berkembang ketika kita terus menemukan sisi baru dari pasangan sepanjang hidup, misalnya dengan mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Belakangan ini, bagaimana perasaanmu tentang aku, dirimu sendiri, dan hubungan kita?” atau “Apakah ada sesuatu yang sedang kamu rasakan dan ingin kamu bicarakan?,” tuturnya.
Rasa ingin tahu membuat cinta tetap dinamis, bukan menjadi sesuatu yang statis.
4. Nilai-Nilai yang Sama
Nilai-nilai yang sama menjadi kompas dalam sebuah hubungan. Tanpa kesamaan nilai, pasangan bisa kehilangan arah ketika menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan.
Misalnya sama-sama memiliki komitmen terhadap keluarga, serta keyakinan terhadap kerja keras, baik ke sesama dan tekun bekerja.
"Seiring berjalannya waktu, kesamaan nilai tersebut jauh lebih berarti dibandingkan kesamaan yang hanya terlihat di permukaan. Ketika kehidupan menjadi penuh tekanan, mulai dari membesarkan anak, menghadapi perubahan karier, hingga merawat orang tua yang semakin lanjut usia, nilai-nilai dibawa membantu kami menentukan keputusan," tuturnya.
5. Komitmen untuk Bertumbuh
Hubungan tidak akan membaik jika hanya satu orang yang bersedia melakukan upaya untuk memperbaikinya. Diperlukan upaya dua-duanya.
Pasangan yang mampu bertahan dalam jangka panjang adalah mereka yang bersedia terus bertumbuh, baik sebagai individu maupun bersama-sama.
Penelitian menunjukkan bahwa pada sejumlah pasangan yang telah menikah lebih dari 20 tahun, pemindaian otak masih menunjukkan aktivitas dopamin yang serupa dengan fase awal jatuh cinta ketika mereka melihat pasangannya.
Percikan cinta itu dapat kembali bukan karena hubungan tersebut menjadi baru, melainkan karena ikatan emosional di antara keduanya tetap kuat.