Hasil Rontgen Dada Bersih Bukan Jaminan Paru Perokok Sehat

Kondisi paru tidak bisa hanya dinilai dari ada atau tidaknya keluhan maupun infeksi.

Diterbitkan 25 September 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Merasa sehat dan memiliki hasil rontgen dada yang terlihat bersih bukan berarti paru-paru seorang perokok terbebas dari dampak paparan rokok.

Dokter keluarga Prodia, Kristin Tjandra, mengatakan kondisi paru tidak bisa hanya dinilai dari ada atau tidaknya keluhan maupun infeksi. Paparan zat dari rokok dapat menimbulkan proses peradangan di dalam tubuh yang tidak selalu terlihat secara langsung.

“Bersih mungkin kondisinya adalah tidak ada infeksi. Itu dua hal yang berbeda,” jelas Kristin kepada Liputan6.com di sela-sela diskusi pneumonia yang digelar Pfizer di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Menurut Kristin, istilah paru-paru “bersih” yang kerap digunakan masyarakat perlu dipahami secara tepat. Tidak adanya infeksi bukan berarti seseorang terbebas dari dampak kebiasaan merokok.

Kristin menjelaskan, paparan rokok dapat meningkatkan oksidan di dalam tubuh. Kondisi tersebut kemudian dapat memicu inflamasi atau peradangan.

“Oksidan yang tinggi akan membuat inflamasi di badan kita. Bukan ngomongin yang tadi nempel doang, yang kelihatan, yang hitam-hitam, tapi peradangan,” katanya.

Dengan demikian, seseorang yang tidak mengalami batuk atau keluhan pernapasan belum tentu terbebas dari dampak rokok. Proses peradangan dapat berlangsung di dalam tubuh meski gejalanya belum terasa.

Dampak tersebut juga tidak hanya berkaitan dengan paru-paru. Menurut Kristin, proses inflamasi akibat paparan rokok dapat memengaruhi organ dan sistem tubuh lainnya.

“Inflamasi itu nggak ngomongin tentang satu spesifik organ. Nggak cuma pernapasan aja,” ujarnya.

PPOK Rentan Terjadi pada Perokok

Pada paru-paru, salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Kristin menjelaskan PPOK berkaitan dengan kerusakan paru-paru yang dapat membuat kemampuan paru dalam menampung udara dan bernapas menjadi semakin terbatas.

“PPOK itu, penyakit paru obstruktif ya, itu tuh rusak. Kebayang nggak? Paru-paru ya, segitu bagusnya ya, dia rusak,” tuturnya.

Ketika kerusakan paru semakin berat, pasien dapat mengalami napas yang lebih pendek dan mudah mengalami sesak.

Menurut Kristin, dampak tersebut terkadang baru terasa ketika seseorang memasuki usia lanjut. Saat masih muda, seseorang bisa saja belum merasakan gangguan yang berarti meski telah memiliki kebiasaan merokok dalam waktu lama.

Karena itu, merasa sehat saat ini bukan menjadi alasan untuk menganggap paru-paru terbebas dari dampak rokok. Upaya menjaga kesehatan paru tetap perlu dilakukan dengan menghindari paparan rokok maupun asap dan uap zat kimia yang berisiko mengganggu kesehatan.

Pembuluh Darah Ikut Terdampak

Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah pada pembuluh darah. Kristin menjelaskan oksidan dari rokok dapat merusak endotel, yakni lapisan bagian dalam pembuluh darah.

Ketika lapisan tersebut mengalami kerusakan, kondisi pembuluh darah dapat menjadi lebih rentan terhadap proses yang berkaitan dengan penumpukan lemak dan inflamasi.

“Oksidan dari rokok itu bisa merusak endotel, jadi kayak nggak mulus, enggak licin. Jadi gampang nempel. Kebayang nggak? Kebuka gitu ya, dan itu menjadi luka,” jelasnya.

Karena itu, dampak rokok tidak berhenti pada saluran pernapasan. Paparan tersebut juga berkaitan dengan proses yang dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah.