Soal Lari dan Maraton, Coach Valast: Nikmati Dulu Prosesnya

Ingin ikut maraton? Coach Valast ungkap pentingnya persiapan fisik, mental, dan menikmati proses.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 12 Agustus 2026, 15:41 WIB
Coach Valast mengingatkan pelari untuk tidak terburu-buru mengejar target maraton. Menurutnya, kesiapan fisik dan mental perlu dibangun melalui latihan yang konsisten. (Foto: Kanaya Nanda Putri/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Olahraga lari semakin diminati masyarakat. Tak sedikit orang yang kemudian memasang target mengikuti lomba lari, termasuk maraton, bahkan sampai ke luar negeri seperti Singapore International Marathon (SGIM) 2026.

Namun, sebelum mengejar target tersebut, pelatih lari profesional dan pacemaker berpengalaman, Coach Valast mengharuskan pelari mempersiapkan kondisi fisik dan mental secara bertahap.

Menurut Direktur Program untuk Campaign SGIM 2026 tersebut pelari tidak usah terburu-buru mengejar target. Proses latihan harus dinikmati dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

"Nggak apa-apa punya cita-cita pengen lari seperti ini. Nggak apa-apa. Tapi nikmati dulu prosesnya," ujar Coach Valast di konferensi pers jelang Singapore Marathon pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Dia, menjelaskan, waktu persiapan perlu disesuaikan dengan jarak lomba. Untuk lari 5K atau 10K, persiapan sekitar tiga bulan dinilai sudah cukup. Sementara itu, pelari yang ingin mengikuti maraton membutuhkan waktu persiapan lebih panjang, sekitar enam hingga delapan bulan.

"Karena jaraknya juga semakin panjang, persiapannya harus lebih panjang lagi. Latihannya juga lebih berat. Waktu yang diluangkan juga lebih berat. Jadi, memang harus dipersiapkan," tambahnya.

Menurut Coach Valast, memiliki target mengikuti lomba lari tentu tidak masalah. Namun, pelari harus memahami kemampuan tubuh dan tidak memaksakan diri hanya demi menyelesaikan sebuah perlombaan.

"Latih dulu badannya. Latih dulu mentalnya. Sehingga kita bisa menyelesaikan lomba tersebut dengan baik," ujarnya.

 

Pelari Wajib Kenali Batas Kemampuan

Coach Valast mengingatkan pelari untuk tidak terburu-buru mengejar target maraton. Menurutnya, kesiapan fisik dan mental perlu dibangun melalui latihan yang konsisten. (Foto: Kanaya Nanda Putri/Liputan6.com)

Coach Valast juga mengingatkan pelari untuk mengenali batas kemampuan. Jika tubuh mulai memberikan tanda-tanda tidak nyaman, latihan sebaiknya dihentikan dan tidak dipaksakan.

"Kalau rasa-rasanya mulai ada sesuatu yang tidak enak, itu harus di-stop. Masih ada race lagi. Next race masih ada. Tapi jantung kita cuma satu," katanya.

Bagi orang yang baru mulai menekuni olahraga lari, Coach Valast menyarankan adanya pendampingan pada tahap awal. Pendamping dapat membantu pelari memahami proses latihan dan mengetahui cara berlatih yang tepat.

"Kalau awal-awal sebaiknya sih ada kursus, lah. Yang memberi tahu teman-teman gimana prosesnya, latihannya seperti apa," ujar Coach Valast.

Setelah memahami teknik dan memiliki pengetahuan yang cukup, pelari dapat melanjutkan latihan secara mandiri.

Selain latihan, pola makan juga perlu diperhatikan. Coach Valast menyarankan pelari mengurangi porsi karbohidrat, mengurangi gula, serta memperbanyak sayuran dan protein.

"Supaya karbohidrat kita tidak terlalu banyak, makan dulu sayuran, kemudian protein. Jadi perutnya sudah mulai full, baru habis itu karbo. Jadi, karbohidratnya tidak banyak," ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahwa olahraga lari tidak harus selalu identik dengan perlengkapan mahal.

Pelari dapat menyesuaikan sepatu, jam olahraga, pakaian, dan perlengkapan lainnya dengan kemampuan finansial.

"Sepatu juga nggak harus banyak-banyak. Satu juga cukup," kata Coach Valast.

 

Lari Bukan Satu-Satunya Pilihan

Coach Valast mengingatkan pelari untuk tidak terburu-buru mengejar target maraton. Menurutnya, kesiapan fisik dan mental perlu dibangun melalui latihan yang konsisten. (Foto: Kanaya Nanda Putri/Liputan6.com)

Bahkan, bagi orang yang baru ingin mulai aktif bergerak, lari bukan satu-satunya pilihan. Jalan cepat selama sekitar 30 menit juga dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan berolahraga.

Coach Valast menjelaskan bahwa jalan cepat dilakukan dengan mengayunkan tangan dan mempercepat langkah sehingga tubuh lebih aktif bergerak. Dengan begitu, detak jantung secara bertahap dapat meningkat.

Dia mengingatkan bahwa kemampuan berlari dibangun melalui latihan yang konsisten. Pelari tidak perlu terburu-buru meningkatkan kemampuan, tapi perlu memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi.

"Latihan, latihan, latihan. Gitu aja sih," pungkasnya.

Menuju SGIM 2026

Pesan Coach Valast untuk menikmati proses latihan menjadi bagian dari program perjalanan lari menuju BYD Singapore International Marathon presented by adidas (SGIM) 2026.

GMC Active bekerja sama dengan Singapore Tourism Board dan SGIM menghadirkan program bagi pelari Indonesia. Dalam kolaborasi ini, Lesnois menjadi mitra media dan komunitas resmi GMC Active.

SGIM 2026 berlangsung pada 4 hingga 6 Desember 2026 dengan kategori Kids Dash, 5K, 10K, Half Marathon, dan Marathon.

Program ini mencakup slot race, pelatihan tiga bulan bersama Coach Valast, lari komunitas BUNKR Collective Run, serta sesi persiapan sebelum keberangkatan.

Direktur Utama GMC Active, Natasha Pardede, mengatakan program ini ditujukan bagi pelari Indonesia yang ingin mengikuti maraton internasional tetapi masih ragu untuk memulai.

"Banyak pelari Indonesia yang punya mimpi ikut marathon internasional, tapi ragu karena belum tahu harus mulai dari mana," ujar Natasha.

Program dimulai September 2026 di Jakarta dan berpuncak di Singapura pada Desember. Paket journey tersedia hingga 30 September 2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya