Simpan Makanan Sisa di Kulkas, Jangan Lewat 3–4 Hari

Menyimpan makanan sisa di kulkas bukan berarti bakteri mati. Tetap ada batas waktu konsumsi agar aman.

Diterbitkan 26 September 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyimpan makanan sisa di dalam kulkas kerap menjadi pilihan agar makanan tidak terbuang percuma. Namun, memasukkannya ke dalam kulkas bukan berarti makanan bisa disimpan tanpa batas waktu.

Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, mengatakan makanan matang yang disimpan dengan benar tetap memiliki batas waktu konsumsi.

Secara umum, makanan matang yang disimpan pada suhu 4 derajat Celsius atau lebih rendah dianjurkan untuk dikonsumsi dalam waktu 3–4 hari.

“Memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan. Karena itu, makanan tetap memiliki masa simpan yang terbatas,” terangnya.

Sebelum disimpan, makanan sisa juga perlu segera didinginkan. Rosyda mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan makanan mudah rusak terlalu lama pada suhu ruang.

Salah satu yang perlu dihindari adalah temperature danger zone, yakni rentang suhu sekitar 5–60°C yang memungkinkan mikroorganisme berkembang lebih cepat.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menyimpan makanan dalam wadah yang terlalu besar dan dalam. Kondisi tersebut dapat membuat proses pendinginan berlangsung lebih lambat.

Wadah makanan juga sebaiknya ditutup dengan baik. Selain menjaga kualitas makanan, penutupan yang tepat membantu mengurangi risiko kontaminasi.

Makanan matang yang disimpan di kulkas pun sebaiknya tidak ditempatkan berdekatan dengan bahan pangan mentah. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.

 

Cek Karakteristik Makanan

Batas 3–4 hari merupakan anjuran umum untuk makanan matang yang disimpan pada suhu yang tepat. Namun, karakteristik makanan juga perlu diperhatikan.

Rosyda menyebut nasi dan pasta matang sebagai makanan yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan spora Bacillus cereus.

Karena itu, makanan berbahan dasar nasi atau pasta tetap perlu ditangani dengan benar sejak setelah dimasak, termasuk tidak terlalu lama dibiarkan pada suhu ruang sebelum masuk ke dalam kulkas.

Selain keamanan pangan, proses penyimpanan dan pemanasan kembali juga dapat memengaruhi kualitas gizi makanan.

Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks, relatif sensitif terhadap panas dan oksidasi. Sementara itu, lemak, terutama asam lemak tak jenuh, dapat mengalami oksidasi jika makanan disimpan dalam wadah yang tidak tertutup dengan baik.

Pada makanan berkarbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta, pendinginan juga dapat menyebabkan perubahan pada pati. Sebagian pati dapat menjadi lebih sulit dicerna setelah proses tersebut.

Prinsip 2–4–74

Untuk membantu masyarakat menyimpan makanan sisa dengan lebih aman, Rosyda menyarankan prinsip sederhana “2–4–74”.

Angka 2: berarti makanan mudah rusak sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari dua jam pada suhu ruang.

Angka 4: pada suhu penyimpanan sekitar 4°C atau lebih rendah.

Angka 74: berarti makanan dipanaskan kembali hingga sekitar 74°C secara merata sebelum dikonsumsi.

Prinsip tersebut dapat membantu mengurangi risiko pertumbuhan mikroorganisme sekaligus menjaga makanan sisa tetap layak dikonsumsi.