Cukupkah Sarapan Umbi-Umbian Rebus untuk Menurunkan Berat Badan?

Sarapan ubi dan singkong rebus, apakah efektif menurunkan berat badan? Ini penjelasan dokter gizi.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 16 Agustus 2026, 14:00 WIB
Ketua PP PDGKI dr. Erwin Christianto mengatakan umbi-umbian dapat menjadi pilihan makanan yang baik. Meski demikian, jumlah dan waktu konsumsinya tetap perlu diperhatikan. (Foto oleh Gemini AI)

Liputan6.com, Jakarta - Sarapan dengan umbi-umbian rebus seperti ubi, singkong, atau kentang kerap dipilih oleh orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan. Selain praktis, makanan yang diolah dengan cara direbus juga tidak membutuhkan tambahan minyak sehingga dapat membantu mengurangi asupan kalori.

Namun, apakah cukup hanya sarapan dengan umbi-umbian rebus untuk menurunkan berat badan?

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, mengatakan umbi-umbian dapat menjadi salah satu pilihan makanan yang baik. Meski demikian, jumlah dan waktu konsumsinya tetap perlu diperhatikan.

"Jadi kalau umbi-umbian itu memang kalau kita lihat dari komposisinya, itu memang bisa bagus terutama untuk pasien diabetes. Tetapi tetap yang kita harus perhatikan adalah jumlahnya dan kapan kita makannya," kata Erwin.

Menurutnya, umbi-umbian tetap merupakan sumber karbohidrat. Oleh sebab itu, mengonsumsinya secara berlebihan tetap dapat meningkatkan asupan kalori dan berdampak pada gula darah.

"Karena kalau kalorinya berlebihan dan dia adalah sumber karbohidrat, tetap akan meningkatkan gula darah. Jadi umbi-umbian lebih bagus atau salah satu bahan makanan yang bagus, tapi harus kita lihat kapan kita makannya dan berapa banyak yang kita makan. Tetap itu adalah prinsip utama," ujarnya.

Sarapan Umbi-Umbian Bukan Satu-Satunya Kunci

Erwin menekankan bahwa orang yang ingin menurunkan berat badan sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengurangan nasi. Sebab, kenaikan berat badan dapat dipengaruhi oleh keseluruhan pola makan dan jumlah kalori yang dikonsumsi.

"Sekali lagi, kalau kita mau diet, kita harus lihat dulu yang menyebabkan berat badan naik itu apa. Belum tentu karena nasi. Jangan-jangan karena bakwan, karena risol. Karena snack," ujarnya.

Untuk mengetahui sumber kelebihan asupan tersebut, dokter gizi biasanya melakukan analisis asupan makan. Pemeriksaan ini membantu melihat pola makan seseorang sehari-hari dan menentukan makanan mana yang perlu dikurangi.

"Jadi, kalau ke dokter gizi, biasanya kita melakukan yang namanya analisis asupan makan. Jadi kita melihat orang ini pola makan sehari-harinya seperti apa. Mana yang berlebihan, itulah yang kita kurangi," kata Erwin.

Dengan demikian, sarapan umbi-umbian rebus dapat menjadi bagian dari pola makan untuk menurunkan berat badan, tapi tidak cukup jika hanya mengandalkan satu jenis makanan. Komposisi makanan, porsi, kebutuhan energi, serta aktivitas fisik tetap perlu diperhatikan.

Jangan Asal Mengurangi Frekuensi Makan

Erwin juga mengingatkan bahwa menurunkan berat badan bukan berarti seseorang harus mengurangi frekuensi makan secara sembarangan.

"Jadi tidak bisa, oh saya makan mulai jam 12 aja. Saya makan sehari dua kali aja," ujarnya.

Kebutuhan makan, menurut Erwin, perlu disesuaikan dengan kondisi dan metabolisme tubuh masing-masing. Orang dengan metabolisme tubuh rendah bukan berarti tidak boleh makan dalam jumlah cukup.

"Untuk orang yang metabolisme tubuhnya rendah, bukan berarti gak boleh makan banyak. Tetapi kita atur sehingga yang terlalu tinggi kalori kita batasi," ujarnya.

Selain mengatur asupan makanan, aktivitas fisik juga tetap perlu dipertahankan. Hal ini penting agar pembakaran kalori tubuh tetap terjaga.

"Dan aktivitas fisik dalam satu hari kita pertahankan. Supaya pembakaran kalori dari tubuhnya itu terjaga," pungkas Erwin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya