Liputan6.com, Jakarta - Miom dan kista adalah kondisi yang kerap ditemukan di organ reproduksi perempuan. Keduanya sering dianggap sebagai kondisi yang sama, padahal berasal dari bagian tubuh serta penanganan yang berbeda.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Sita Ayu Arumi menjelaskan miom merupakan tumor yang berasal dari otot rahim, sedangkan kista merupakan kantung berisi cairan yang berada di indung telur.
Advertisement
Miom bisa muncul karena ada mutasi genetik dari otot rahim. Miom bisa cepat tumbuh dipengaruhi dua hal pertama, hormonal imbalance karena dipengaruhi hormon estrogen dan progesterol. Lalu, kedua karena proses peradangan.Mengenai penanganan miom, dokter yang praktik di Eka Hospital MT Haryono Jakarta itu mengatakan bisa dilakukan dengan mengambil miom saja meski ukuran besar sekalipun.
Sita mengatakan perempuan yang masih ingin memiliki anak tidak selalu harus menjalani operasi pengangkatan rahim ketika mengalami miom. Dokter dapat mengangkat miomnya saja dengan tetap mempertahankan rahim.
“Untuk yang masih ingin kehamilan lagi atau belum pernah punya anak, kita harus lakukan operasinya ambil miomnya saja. Kalau ukurannya besar gimana? Tidak masalah, mau 20 cm, mau 15 cm, tidak ada masalah ambil miom, hanya miomnya saja,” jelasnya.
Namun, pada miom berukuran besar, dokter perlu melakukan rekonstruksi rahim setelah miom diangkat.
“Memang nanti kalau untuk yang besar itu kita harus merekonstruksi rahimnya untuk kembali sesuai ukuran normal. Yang sulit itu adalah merekonstruksi rahimnya,” kata Sita dalam temu media pada Selasa (18/8/2026).
Operasi Kista Bisa Pengaruhi Cadangan Telur
Berbeda dengan miom, kista berada di indung telur dan kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada perempuan yang masih ingin memiliki anak.
Sita menjelaskan, tindakan operasi pada kista dapat berpengaruh terhadap cadangan telur. Karena itu, operasi kista tidak sebaiknya dilakukan berulang kali tanpa pertimbangan yang matang.
“Konsekuensinya kista itu dia bisa menurunkan cadangan telur. Oleh karena itu, operasi kista itu tidak boleh sembarangan,” ujarnya.
Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan jika seseorang menjalani operasi kista berkali-kali.
“Sudah pernah kena kista operasi, nanti kamu operasi lagi, nanti kamu operasi lagi sampai tiga kali operasi, itu risikonya cadangan telurnya akan habis,” kata Sita.
Salah satu kondisi yang membutuhkan pertimbangan khusus adalah kista akibat endometriosis. Menurut Sita, dokter perlu menentukan terlebih dahulu tujuan penanganan sebelum memutuskan operasi.
“Terutama kista endometriosis itu memang harus sangat hati-hati memutuskan kapan harus operasi,” katanya.
Menurutnya, penanganan endometriosis perlu disesuaikan dengan kondisi dan tujuan pasien, termasuk apakah pasien masih ingin hamil atau sudah tidak merencanakan kehamilan.
“Tujuan pasiennya ingin apa? Ingin hamil, berarti kita akan tata laksananya endometriosisnya dengan tujuan ingin hamil. Atau sudah cukup anak, maka tata laksananya endometriosisnya dengan tujuan untuk tata laksana penyakitnya. Karena itu nanti pendekatannya berbeda,” tutur Sita.