AI Makin Berperan dalam Pemeriksaan Medis, Ini Batas yang Perlu Diketahui

Teknologi AI makin canggih di dunia medis. Lantas, sejauh mana penggunaannya diperbolehkan?

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 19 Agustus 2026, 16:17 WIB
Kepala Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Riris Dian Hardiani, SKM, MKM, menjelaskan batas penggunaan AI dalam diagnosis dan pemeriksaan medis. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia medis terus meningkat, terutama untuk mempercepat alur kerja dan pengolahan data pasien. Namun, secara regulasi, AI belum dapat menjadi penentu utama dalam diagnosis medis.

Kepala Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Riris Dian Hardiani, SKM, MKM, mengatakan, AI saat ini masih berfungsi sebagai alat bantu skrining dan mempercepat proses pembacaan data penunjang.

"AI saat ini memang belum untuk diagnosis, belum jadi kontributor utama di kami, di kesehatan," ujar Riris dalam Media Briefing Future Health Index 2026 Indonesia Report oleh Philips pada Rabu (19/8/2026).

Meski begitu, AI tetap berpotensi membantu proses diagnosis, selama hasilnya divalidasi oleh tenaga medis. Salah satunya dalam skrining tuberkulosis (TB).

"AI bisa membantu diagnosis. Misal, untuk skrining TB, tapi hasilnya tetap harus divalidasi oleh dokter," ujarnya.

Hal serupa berlaku pada penggunaan AI dalam perangkat ultrasound untuk pemeriksaan kehamilan. Teknologi dapat membantu membaca hasil pencitraan, tetapi hasilnya tetap perlu divalidasi oleh dokter.

"Untuk membaca hasil USG, tetap harus divalidasi dokter," kata Riris.

Menurutnya, kemajuan AI memang dapat mempercepat proses pembacaan hasil pemeriksaan medis atau medical imaging. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis.

"Clinical judgement itu kan kewenangan dokter," tambah Riris.

AI Pangkas Waktu Pemeriksaan

Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, mengatakan, penerapan AI pada perangkat medis juga berpotensi memangkas waktu pemeriksaan secara signifikan.

Menurut Astri, pemeriksaan organ seperti jantung dan abdomen sebelumnya membutuhkan sejumlah tahapan manual yang cukup memakan waktu. Dokter juga harus melakukan proses pembacaan dan pencatatan hasil secara bertahap.

"Dulu, misalnya seorang dokter untuk melakukan scan jantung, abdomen, itu memerlukan beberapa step dan juga cukup lama. Atau, dokter radiologi atau yang membacakan itu mungkin perlu menulis satu-satu," ujarnya.

Dengan AI yang terintegrasi pada perangkat medis modern, proses pemindaian dan pengolahan data citra medis dapat dilakukan lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit atau detik.

Hal ini memungkinkan pasien, termasuk yang menjalani Medical Check-Up (MCU), memperoleh hasil pembacaan awal dalam waktu yang lebih singkat.

Meski mampu mengenali pola atau indikasi kelainan pada citra medis dengan cepat, hasil dari AI tetap tidak dapat langsung dijadikan diagnosis akhir.

Teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan dan risiko teknis sehingga hasilnya perlu dianalisis dan divalidasi oleh tenaga medis.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya