Tahu dan Tempe Jadi Andalan, Ini Alasan Perlu Ditambah Protein Hewani

Tak cukup cuma andalkan menu lauk tahu dan tempe.

oleh Benedikta DesideriaKanaya Nanda PutriDiterbitkan 27 Agustus 2026, 15:05 WIB
Tempe dan Tahu/Gemini AI

Liputan6.com, Jakarta - Bagi banyak masyarakat Indonesia, tahu dan tempe hampir selalu hadir di meja makan. Harganya terjangkau, mudah diolah, dan menjadi sumber protein yang cukup populer. Namun, ahli nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengingatkan pentingnya melengkapi asupan protein nabati dengan protein hewani karena memiliki tingkat ketersediaan hayati (bioavailability) yang lebih tinggi.

Tara mengungkapkan pola makan masyarakat masih cenderung lebih banyak mengandalkan protein nabati dibandingkan protein hewani. Padahal asupan protein hewani penting karena umumnya memiliki profil asam amino yang lebih lengkap dan lebih mudah dimanfaatkan tubuh dibandingkan sebagian sumber protein nabati.

"Budaya tahu tempe kita cukup tinggi. Keseimbangan antara tahu tempe dan juga protein hewani itu masih timpang, jadi masih lebih berat ke tahu tempe, mungkin karena lebih ekonomis. Tapi protein hewani itu jauh lebih dapat diserap, bioavailability-nya itu lebih tinggi, alias lebih dapat diserap," terang Tara dalam acara “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” pada Forum Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Tara mencontohkan sumber protein hewani seperti telur, susu, dan daging lebih tinggi diserap tubuh ketimbang tahu dan tempe.

"Kalau misalnya tahu tempe itu diserap hanya sampai 90 persen dari total yang dikonsumsi. Kalau protein hewani, kayak daging sapi, telur, susu itu bisa sampai 99 persen diserap," kata Tara.

Selain tingkat penyerapan, kualitas protein juga dapat dinilai melalui Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS), yang mempertimbangkan kecernaan dan kandungan asam amino esensial dalam protein.

Tara mengatakan susu termasuk salah satu sumber protein dengan kualitas tinggi. Namun, konsumsi susu di masyarakat masih perlu ditingkatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.

 

Protein Hewani Tak Harus Mahal

Ahli gizi Tara menjelaskan tentang ketimpangan jenis protein. Meski tahu dan tempe dinilai lebih ekonomis, namun perlu diimbangi dengan protein hewani. Tidak selalu harus daging atau ayam, telur dan ikan yang juga ekonomis bisa menjadi pilihan.

Tara memahami bahwa sebagian masyarakat masih menganggap protein hewani identik dengan daging sapi yang harganya relatif mahal. Padahal, terdapat berbagai sumber protein hewani yang lebih terjangkau dan mudah ditemukan.

Telur dan ikan kembung, misalnya, dapat menjadi pilihan protein hewani dengan harga yang relatif ramah di kantong. Ikan kembung juga mengandung lemak sehat, termasuk Omega-3, DHA, dan EPA.

Karena itu, pemenuhan kebutuhan protein tidak harus bergantung pada satu jenis makanan. Tahu dan tempe tetap dapat dikonsumsi sebagai sumber protein nabati, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan sumber protein hewani.

Dengan mengombinasikan keduanya, masyarakat dapat memperoleh asupan protein yang lebih beragam sekaligus memenuhi kebutuhan berbagai zat gizi penting dalam pola makan sehari-hari.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya