Liputan6.com, Jakarta - Menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi beban pada sendi lutut. Namun, berkurangnya angka di timbangan tidak selalu berarti keluhan nyeri lutut akan ikut menghilang.
Secara medis, penurunan berat badan memang sangat membantu mengurangi beban tekanan pada sendi. Namun, berat badan hanyalah satu dari sekian variabel pemicu nyeri.
Advertisement
Jika peradangan atau pengikisan tulang rawan sudah mencapai tingkatan sedang hingga berat, pengurangan beban fisik saja tidak cukup untuk memperbaiki struktur yang telah rusak.
Penurunan berat badan mengurangi laju kerusakan, namun tidak secara instan menghilangkan bekas kerusakan mekanis yang sudah terjadi sebelumnya. Efek signifikan dapat terjadi melalui kombinasi yang bermacam-macam, misalnya, berkaitan dengan kalangan dewasa muda yang aktivitasnya terkontrol.
Di samping itu, masalah lain yang menjadi pemicu nyeri lutut dapat berupa rusaknya ligamen atau ada bagian yang robek seperti disampaikan dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi subspesialisasi kaki dan pergelangan kaki, Ihsan Oesman.
"Berat badan hanya merupakan salah satu dari semua variabel yang bisa menyebabkan nyeri pada lutut. Jadi kalau misalnya kita bilang sudah kita kontrol level berat badannya tapi kita evaluasi hal yang lain hubungan dengan patologisnya, ini yang menjadi pembeda hubungan antara berat badan dengan OA," ujarnya dalam sesi diskusi bertajuk “Memahami Hubungan Obesitas, Osteoarthritis Lutut, dan Kualitas Hidup” oleh Novo Nordisk.
Pasien yang masih merasakan nyeri pasca-penurunan berat badan dianjurkan untuk tidak langsung berkecil hati atau kembali ke pola hidup lama. Evaluasi pencitraan medis, seperti X-ray atau MRI, sangat diperlukan untuk menentukan terapi lanjutan, baik berupa fisioterapi, pemberian pelumas sendi, maupun tindakan lainnya.
Targetkan Fat Loss, Bukan Sekadar Weight Loss
Sejalan dengan upaya penurunan berat badan untuk menekan potensi osteoartritis, saat menurunkan berat badan, fokus utama harus berada pada pemangkasan massa lemak (fat loss), bukan sekadar mengejar penurunan angka di timbangan.
Penurunan berat badan yang terlalu drastis sering kali bukan disebabkan oleh hilangnya lemak, melainkan terkurasnya cairan tubuh atau berkurangnya massa otot.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, Andhika Raspati, menjelaskan bahwa yang cukup sering terjadi adalah ketika massa otot atau muscle mass menghilang.
Ketika muscle mass tersebut hilang, dan fenomena muscle weakness (kelemahan otot), seseorang bisa lebih mudah lelah dan pegal-pegal, hingga risiko terkena osteoartritis.
“Sendinya jadi goyang. Jadi nggak stabil. Risiko orang karena otot itu adalah muscle weakness, atau kelemahan otot,” ujar Andhika.
Selain itu, dia juga membagikan cerita tentang metode diet instan, seperti penggunaan teh "detox" herbal atau obat pembersih yang mengandung zat diuretik.
Zat ini bekerja dengan merangsang produksi urine, sehingga “memaksa” tubuh untuk terus mengeluarkan cairan melalui urine.
Mengingat tubuh manusia terdiri dari sekitar 70 persen air, pembuangan cairan secara berlebihan memang akan menurunkan angka timbangan dengan cepat, namun hal tersebut merupakan ilusi penurunan berat badan yang bisa berbahaya bagi organ tubuh.
“Tubuh kita kan 70 persen air. Air yang dikeluarkan pasti (jadi) kurus lah. Tapi juga ginjalnya juga akan kurus. Makanya kenapa, bisa kita bilang, kalau turun drastis gara-gara cairannya hilang, itu jadi malah jadi penyakit, jadi malah bikin bahaya,” tambah Andhika.