Pakar Ungkap Dampak Bedah Robotik yang Perlu Diketahui Pasien

Pakar ungkap dampak bedah robotik bagi pasien, benarkah pemulihannya lebih cepat?

Diterbitkan 20 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr. Yanti Herman, SH, MH.Kes, mengatakan, pemanfaatan bedah robotik menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong transformasi layanan kesehatan di Indonesia.

"Penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pengembangan layanan berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin aman, presisi, dan berkualitas," ujar Yanti dalam Siloam Robotic Summit 2026 pada Sabtu (18/7/2026)

Inovasi bedah robotik, lanjut Yanti, tidak hanya mendorong kemajuan praktik bedah modern,"Tapi juga memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional agar masyarakat dapat mengakses layanan berstandar global lebih dekat dengan rumah."

Perkembangan teknologi ini dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya kasus penyakit kronis, bertambahnya populasi lanjut usia, serta kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih modern.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa bedah robotik mampu meningkatkan presisi tindakan melalui sayatan yang lebih kecil, sehingga membantu mengurangi nyeri pascaoperasi, mempercepat pemulihan, dan menurunkan risiko komplikasi.

Salah satu penelitian pada sistem Da Vinci Xi menunjukkan pasien menjalani rawat inap hampir dua hari lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Teknologi ini juga dikaitkan dengan penurunan risiko komplikasi pascaoperasi hingga 44 persen dan risiko kematian dalam 30 hari setelah operasi hingga 46 persen.

Dibandingkan laparoskopi konvensional, penggunaan Da Vinci Xi juga menurunkan risiko konversi ke operasi terbuka sebesar 56 persen serta komplikasi pascaoperasi sekitar 10 persen.

Bedah Robotik Tak Hanya Mengandalkan Teknologi

CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan pengembangan bedah robotik tidak berhenti pada penyediaan teknologi, tapi juga diiringi pembangunan ekosistem yang mendukung penerapannya secara berkelanjutan.

"Dalam satu tahun terakhir, kami tidak hanya menghadirkan teknologi bedah robotik, tapi membangun sebuah ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi pasien," ujarnya.

Hal ini mencakup investasi pada pengembangan kompetensi dokter, tata kelola klinis, penelitian, dan budaya pembelajaran yang berkelanjutan.

Senada, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, mengatakan, evaluasi klinis internal menunjukkan manfaat bedah robotik dalam meningkatkan presisi tindakan, keselamatan pasien, serta mempercepat proses pemulihan.

"Berdasarkan evaluasi klinis internal Siloam, pemanfaatan bedah robotik menunjukkan manfaat yang terukur dalam aspek presisi, keselamatan, dan pemulihan pasien," ujar Grace.

 

 

Teknologi Robotik Mampu Tingkatkan Akurasi

Grace, menjelaskan, melalui Siloam Knee Arthroplasty Registry yang membandingkan operasi penggantian lutut secara robotik dan konvensional di empat rumah sakit, kedua metode sama-sama mencatat 0 persen readmisi dalam 30 hari dan 0 persen infeksi.

Namun, kata Grace, pasien yang menjalani prosedur robotik memiliki rata-rata lama rawat inap 4,5 hari, lebih singkat dibandingkan 6,2 hari pada prosedur konvensional.

Selain itu, hampir seluruh prosedur robotik yang dievaluasi berhasil mencapai target keseimbangan sendi lutut sesuai rencana operasi.

"Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan bahwa teknologi robotik mampu meningkatkan akurasi dalam operasi penggantian sendi," katanya.