Liputan6.com, Jakarta - Dua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan berat akibat gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perbaikan kedua rumah sakit tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran Rp 150-200 miliar dan ditargetkan rampung dalam enam hingga 12 bulan.
Sementara itu, fasilitas layanan kesehatan yang rusak ringan diharapkan bisa diperbaiki lebih cepat sekitar 1-2 bulan.
Advertisement
"Rusak sedang, 3 bulan 6 bulan beres. Kalau rusak berat, itu 6 bulan sampai 12 bulan. Karena itu membutuhkan yang bangunan baru," kata Budi saat rapat bersama DPR di Jakarta pekan lalu.
Sebagai respons cepat atas rusaknya kedua RS itu, yakni RSUD di Manggarai Timur dan RSUD di Nagekeo, pihaknya sudah membuat RS lapangan
Budi menyebutkan, perlu perhatian untuk 166 puskesmas di NTT dan meminta bantuan serta kolaborasi dari Komisi IX untuk percepatan pemulihan fasilitas-fasilitas tersebut.
"Nanti Kementerian Kesehatan akan coba carikan dari sponsorship juga. Kan kita kasih contoh ya. Kadang kalau menunggu dari pemerintah, kadang-kadang terlampau lama," katanya mengutip Antara.
Selain itu, pihaknya sudah mencatat alat-alat kesehatan yang rusak, guna mengetahui mana yang dapat diperbaiki dan mana yang tidak.
Dia menjelaskan fokus pertama pihaknya adalah memastikan semua pasien yang terdampak bencana tersebut diidentifikasi dan dirawat. Apabila penyakitnya bisa ditangani di puskesmas, maka akan ditangani di fasilitas itu. Jika tidak, kata Budi, maka dirujuk.
"Sesudah itu baru yang tahap keduanya, kita mulai mengaktifkan kembali seluruh fasilitas kesehatan yang terdampak oleh bencana. Sedangkan tahap ketiganya yang nanti baru akan kita lakukan kemudian adalah bagaimana memulihkan kembali faskes-faskes yang rusak," kata Menkes.
Dia mengatakan, pihaknya menugaskan semua fasilitas kesehatan yang ada untuk melakukan triase awal secara cepat, guna mengetahui keparahan kondisi pasien, dan melakukan penanganan yang sesuai agar tidak membebani fasilitas kesehatan di atas tingkatnya.
"Masalahnya adalah beberapa fasilitas kesehatan benar-benar enggak bisa operasional, karena SDM-nya enggak ada untuk masuk ke desa-desa," kata Budi.
Tantangan Pengobatan
Budi menambahkan, orang-orang lokal masih lebih percaya pengobatan tradisional, sehingga pasien yang seharusnya ditangani di RS malah ditangani secara mandiri.
Untuk memperluas layanan kesehatan, pihaknya pun bekerja sama dengan RS Kapal Airlangga untuk memberikan layanan di daerah-daerah yang jauh.
Dia menyebutkan, kasus yang paling banyak ditemukan adalah trauma bagian tubuh dan patah tangan atau kaki.