Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan Satu Sehat rekam medis elektronik (RME) terintegrasi yang menghubungkan data kesehatan masyarakat dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan integrasi tersebut harus mencakup seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, apotek hingga laboratorium. Data yang dihimpun juga tidak hanya berupa identitas pasien, tetapi mencakup diagnosis, hasil laboratorium, obat hingga data radiologi.
Advertisement
Budi menargetkan data dari sekitar 3.200 rumah sakit dan 10.000 puskesmas dapat terintegrasi secara lengkap ke dalam sistem. Secara keseluruhan, terdapat hampir 100.000 fasilitas kesehatan yang diharapkan dapat terhubung.
"Pastikan bukan hanya terkoneksi, bukan hanya mengirimkan data, tapi datanya lengkap. Mulai data dari diagnosis, data laboratorium, kemudian data obat, sampai data radiologi," kata Budi saat peluncuran pada Selasa (1/9/2026) di Kantor Kemenkes Jakarta.
Data kesehatan tersebut nantinya disimpan berdasarkan individu, bukan berdasarkan fasilitas kesehatan. Dengan demikian, riwayat pemeriksaan seseorang dapat terkumpul meski dilakukan di tempat yang berbeda.
"Jadi yang namanya dokter Benny, kalau dia di CKG datanya masuk di akun dokter Benny. Kalau dia kemudian periksa darah di Prodia masuknya juga di akun dokter Benny," kata Budi memberi contoh.
Budi kemudian memaparkan empat manfaat utama dari integrasi rekam medis elektronik tersebut.
1. Memudahkan pasien memantau kondisi kesehatan
Budi mengatakan sistem rekam medis terintegrasi memungkinkan masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya kapan saja. Menurutnya ini mirip ketika seseorang memantau kondisi keuangan melalui aplikasi perbankan.
"Tujuan utama adalah supaya si pasien tahu at any time kondisi kesehatan dia apa," kata sosok yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri itu.
Selanjutnya
2. Mempermudah pelayanan dan rujukan pasien
Integrasi rekam medis juga dapat membantu fasilitas pelayanan kesehatan ketika pasien berpindah tempat berobat atau dirujuk.
Budi mencontohkan, pasien yang telah melakukan pemeriksaan laboratorium di suatu fasilitas kesehatan tidak perlu selalu menjalani pemeriksaan yang sama ketika datang ke rumah sakit lain, sepanjang data tersebut tersedia dan pasien memberikan akses.
"Begitu dia masuk rumah sakit, rumah sakitnya tinggal lihat saja asal dikasih akses oleh pasien. Enggak usahlah ambil untung diperiksa lagi darahnya, sudah (diperiksa)," ujarnya.
Menurutnya, integrasi data juga membuat rumah sakit tujuan rujukan dapat mengetahui kondisi pasien sebelum pasien tiba. Hal ini diharapkan mempercepat proses pelayanan, terutama dalam kondisi darurat.
3. Membantu BPJS Kesehatan mengawasi mutu layanan
Budi mengatakan data rekam medis yang terintegrasi juga dapat dimanfaatkan untuk memantau kesesuaian pelayanan kesehatan dengan clinical pathway atau standar pelayanan yang berlaku.
Dengan data tersebut, BPJS Kesehatan dapat melihat adanya pola atau kondisi yang tidak biasa dalam pelayanan maupun klaim.
"Ini bisa membantu juga BPJS untuk bisa memonitor apakah benar-benar prosedurnya dijalankan rumah sakit sesuai dengan clinical pathway," tuturnya.
Menurut Budi, pemanfaatan data secara menyeluruh juga dapat mendukung penerapan pelayanan kesehatan berbasis hasil atau outcome-based dan value-based healthcare.
4. Menjadi basis riset untuk meningkatkan kualitas layanan
Manfaat lainnya adalah pemanfaatan data rekam medis elektronik untuk penelitian dan pengembangan layanan kesehatan.
Budi mencontohkan data dari berbagai rumah sakit dapat digunakan untuk membandingkan hasil suatu tindakan medis. Dari perbandingan tersebut, peneliti dapat menemukan praktik terbaik yang kemudian dapat diterapkan lebih luas.
"Kita bisa meningkatkan derajat kesehatan kita dengan mencari best practices dari prosedur-prosedur yang ter-record di rekam medis elektronik ini," kata Budi.
Ia berharap ketersediaan data kesehatan dalam jumlah besar dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan nasional secara berbasis bukti.
"Mudah-mudahan kalau ini jalan, ini bisa menjadi salah satu pilar untuk sistem kesehatan kita. Dan ini masuk di transformasi pilar nomor enam, ini kan transformasi teknologi kesehatan," ujar Budi.