Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kebersihan area intim merupakan bagian penting dari kesehatan perempuan. Namun, bukan berarti vagina harus dibersihkan secara berlebihan. Penggunaan produk pembersih tertentu atau kebiasaan mencuci bagian dalam vagina justru dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma vagina.
Mikrobioma vagina merupakan ekosistem mikroorganisme yang terdiri dari bakteri, jamur, dan virus. Pada kondisi sehat, mikrobioma vagina umumnya didominasi bakteri baik Lactobacillus.
Advertisement
Bakteri ini membantu mempertahankan lingkungan vagina tetap asam sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit.
Dr Clara Ong, konsultan obstetri dan ginekologi di Parkway MediCentre, mengatakan kebiasaan membersihkan vagina secara berlebihan justru dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme di dalamnya.
"Perempuan mencuci area tersebut untuk mengurangi rasa gatal, bau, atau keputihan. Namun, akibat mikrobioma vagina yang terganggu, gejala tersebut justru dapat semakin sering muncul," kata Ong dikutip dari Channel News Asia pada Rabu, 2 September 2026.
Lantas, bagaimana cara menjaga kebersihan area intim tanpa mengganggu mikrobioma vagina?
Hindari Mencuci Bagian Dalam Vagina
Salah satu hal yang perlu dihindari adalah douching, yaitu kebiasaan mencuci bagian dalam vagina menggunakan cairan tertentu.
Menurut Dr Ong, kebiasaan tersebut dapat menghilangkan Lactobacillus dan mengganggu keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri yang berpotensi menyebabkan penyakit.
Untuk membersihkan area intim, cukup gunakan air atau sabun lembut pada bagian vulva, yaitu bagian luar organ genital perempuan.
Setelah itu, keringkan dengan menepuk-nepuk secara perlahan menggunakan handuk. Hindari menggosok area tersebut terlalu kuat.
Hindari Produk Berpewangi
Semprotan kewanitaan, parfum, deodoran, cairan pembersih, dan bedak sebaiknya tidak digunakan pada area intim, terutama jika mengandung pewangi.
Produk tersebut dapat mengiritasi kulit sekaligus mengganggu keseimbangan alami vagina.
Jika kulit vulva kering atau mudah mengalami gesekan, krim pelindung yang lembut dan bebas pewangi dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Jangan Terlalu Lama Menggunakan Pantyliner
Keputihan merupakan kondisi yang umum dialami perempuan. Namun, jika cairan vagina cukup banyak, penggunaan pantyliner dalam waktu lama dapat membuat area intim tetap lembap.
Dr Rachel Lee, associate consultant dari Division of Benign Gynaecology, Department of Obstetrics & Gynaecology, National University Hospital, menyarankan membawa celana dalam cadangan untuk diganti jika diperlukan.
Cara tersebut dapat menjadi pilihan daripada menggunakan pantyliner dalam waktu lama.
Pilih Pakaian yang Nyaman
Cara menjaga kebersihan area intim juga perlu memperhatikan pakaian yang digunakan.
Pilih pakaian yang tidak terlalu ketat agar kulit dapat bernapas. Celana dalam berbahan katun atau memiliki lapisan katun juga dapat membantu menjaga area intim tetap kering dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
Setelah berolahraga, segera ganti pakaian yang basah oleh keringat. Begitu juga setelah berenang, jangan terlalu lama mengenakan pakaian renang yang basah.
Kebersihan Tidak Harus Berlebihan
Menjaga area intim tetap bersih bukan berarti harus menggunakan banyak produk atau mencuci vagina berulang kali.
Justru, perawatan yang sederhana dapat membantu mempertahankan keseimbangan mikrobioma vagina. Hindari douching, produk berpewangi, pakaian terlalu ketat, serta kebiasaan yang membuat area intim terlalu lembap.
Jika muncul keputihan dengan warna atau bau yang tidak biasa, gatal, iritasi, atau keluhan lain yang menetap, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Keluhan tersebut dapat menjadi tanda adanya infeksi yang membutuhkan penanganan.