Liputan6.com, New York - Kematian bayi yang terinfeksi campak di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), memicu kontroversi setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tidak memasukkannya ke dalam data kematian akibat campak secara nasional.
Departemen Kesehatan Pennsylvania sebelumnya melaporkan dua kematian terkait campak pada 25 Agustus 2026. Namun, CDC memutuskan untuk tidak memasukkan kedua kasus tersebut dalam pembaruan data mingguannya karena masih membutuhkan informasi tambahan untuk memastikan apakah campak menyebabkan atau turut berkontribusi terhadap kematian.
Advertisement
Keputusan tersebut disebut berasal dari Direktur CDC yang baru menjabat, Dr. Erica Schwartz. Departemen Kesehatan Pennsylvania menegaskan bahwa kedua kasus telah melalui penyelidikan sebelum dilaporkan kepada CDC.
"Setiap kasus campak yang dilaporkan ditinjau secara menyeluruh untuk memastikan bahwa kasus tersebut memenuhi definisi kasus campak dari CDC. Hingga saat ini, Departemen Kesehatan Pennsylvania telah memberikan seluruh data epidemiologi yang diperlukan kepada CDC terkait dua kematian yang berhubungan dengan campak di Pennsylvania," kata sekretaris pers Departemen Kesehatan Pennsylvania, Neil Ruhland, dikutip dari CNN pada Kamis, 3 September 2026.
Kematian Bayi Menjadi Sorotan
Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah kematian seorang bayi di Lancaster County. Bayi tersebut meninggal setelah lahir dan diketahui memiliki bukti infeksi virus campak pada jaringan paru-parunya.
Koroner Lancaster County, Dr. Stephen Diamantoni, mengatakan, bayi tersebut meninggal akibat limpa yang pecah. Menurutnya, pemeriksaan juga menunjukkan adanya virus campak pada jaringan paru-paru bayi.
Campak diketahui dapat menyebabkan limpa membengkak dan menjadi lebih rentan mengalami kerusakan. Namun, Diamantoni mengatakan pihaknya tidak menemukan bukti bahwa limpa bayi tersebut mengalami pembesaran sebelum pecah.
Kasus ini masih dalam penyelidikan untuk menentukan hubungan antara infeksi campak dan penyebab kematian.
CDC Tidak Masukkan Dua Kematian
CDC sempat menunda pembaruan data campak mingguan. Ketika data akhirnya dipublikasikan, jumlah kematian akibat campak pada 2026 tidak mencantumkan dua kematian yang dilaporkan Pennsylvania.
CDC menjelaskan bahwa informasi yang tersedia belum cukup untuk menentukan apakah korban meninggal karena campak atau akibat penyebab lain ketika sedang terinfeksi campak.
Keputusan ini dinilai tidak biasa oleh sejumlah mantan pejabat CDC. Mantan wakil direktur utama CDC, Dr. Nirav Shah, mengatakan, negara bagian selama ini memiliki peran penting dalam melakukan penyelidikan kasus dan melaporkan hasilnya kepada CDC.
"Mempertanyakan kembali keputusan ahli epidemiologi negara bagian merupakan sesuatu yang cukup luar biasa," ujar Shah.
Dia menilai pencatatan kematian terkait infeksi selama ini tidak selalu bergantung pada kepastian apakah seseorang meninggal 'karena' infeksi atau 'dengan' infeksi.
Pendapat serupa disampaikan mantan kepala petugas medis CDC, Dr. Deb Houry,"Negara bagian memberi tahu CDC, kemudian CDC menyusun gambaran nasional. Negara bagianlah yang melakukan penyelidikan."
Picu Perdebatan Politik
Kontroversi ini juga memperuncing perselisihan antara Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F. Kennedy Jr. dan Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro. Kennedy sebelumnya mempertanyakan laporan kematian terkait campak di Pennsylvania dan bahkan menyebut kasus tersebut mungkin 'sepenuhnya dibuat-buat'.
Sementara itu, pejabat kesehatan Pennsylvania tetap mempertahankan laporan mereka dan menyatakan seluruh data epidemiologi terkait kedua kasus telah diberikan kepada CDC. Sekretaris pers HHS, Grace Davis Jamison, mengatakan, CDC harus memastikan setiap laporan yang disampaikan kepada publik akurat dan transparan.
"Dua kematian terkait campak yang diumumkan Pennsylvania belum dapat dikonfirmasi berdasarkan informasi yang saat ini tersedia bagi CDC," ujarnya.
Pakar Khawatir Perhatian Teralihkan
Presiden sekaligus CEO de Beaumont Foundation, Dr. Brian Castrucci, mengatakan, perbedaan pandangan tersebut berisiko mengubah proses verifikasi ilmiah menjadi kontroversi politik.
Menurutnya, satu kematian dapat memiliki lebih dari satu faktor penyebab. Karena itu, adanya faktor lain tidak otomatis menghilangkan kemungkinan bahwa penyakit menular turut berperan.
"A death can have multiple contributing causes; that does not make the role of an infectious disease irrelevant," ujar Castrucci.
Direktur kesehatan masyarakat Cleveland, Dr. David Margolius, juga menyayangkan perdebatan yang berkembang di tengah wabah campak.
"Ini sangat menyedihkan dan membuat frustrasi melihat perdebatan politik mengenai bagaimana bayi malang ini meninggal," katanya.