Bekas TB Tinggalkan Jejak, Risiko Kanker Paru-Paru Mengintai

Sembuh dari TB bukan berarti bebas risiko. Kenali kaitan bekas TB dengan kanker paru-paru.

Diterbitkan 02 September 2026, 16:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan kasus TB terbanyak di dunia.

Namun, persoalan tidak selalu berhenti setelah pasien dinyatakan sembuh. Riwayat TB ternyata dapat meninggalkan perubahan pada struktur paru yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut disebut dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru.

Dokter Spesialis Paru, Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Hospitals, Linda Masniari, Sp.P(K), menjelaskan bahwa penyakit yang menyebabkan perubahan struktur paru, termasuk bekas TB dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dapat meningkatkan kerentanan terhadap kanker paru-paru.

"Kalau dari pemeriksaan, tidak ada tumor, tapi hanya kelainan paru lainnya, misalnya bekas TB, juga bisa menyebabkan kanker paru," ujar Linda dalam sesi diskusi pada “MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026” di Jakarta pada Selasa (1/9/2026).

Infeksi TB yang berat dapat meninggalkan jaringan parut atau scarring serta kerusakan pada struktur paru. Kondisi tersebut menjadi salah satu perubahan yang perlu diperhatikan pada penyintas TB.

Selain TB, paparan asap rokok dan polusi udara juga dapat mengganggu kesehatan paru dalam jangka panjang dan berkontribusi terhadap penyakit pernapasan kronis, termasuk PPOK.

Menurut Linda, tingginya jumlah penyintas TB di Indonesia membuat pemantauan kesehatan paru menjadi penting. Terlebih, mereka yang memiliki riwayat penyakit paru juga dapat memiliki faktor risiko lain yang berkaitan dengan kanker paru.

Karena itu, penyintas TB dianjurkan menjalani pemeriksaan paru secara berkala, salah satunya melalui foto toraks atau rontgen dada. Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X untuk melihat kondisi organ di dalam rongga dada, termasuk paru-paru.

"Sehingga pasien-pasien yang bekas TB kita selalu anjurkan, every year, untuk foto toraks, karena kemungkinan untuk (jadi) kanker paru besar," ujar Linda.

Langkah Antisipasi Kanker Paru

Kanker paru pada tahap awal kerap tidak menimbulkan gejala yang khas. Karena itu, pemantauan secara berkala menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.

Linda mengatakan bahwa orang dengan riwayat kelainan paru termasuk dalam kelompok yang membutuhkan perhatian lebih. Kelompok berisiko tersebut juga telah masuk dalam program nasional yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas.

"Dari kelompok risiko akhirnya sekarang sudah masuk dalam program nasional, jadi sudah masuk ke menkes, sudah masuk ke puskesmas," ujarnya.

Pemeriksaan dapat disesuaikan dengan tingkat risiko masing-masing pasien. Pada kelompok dengan risiko lebih rendah, pemantauan dapat dilakukan melalui foto toraks secara berkala untuk melihat adanya perubahan struktur paru atau kelainan lainnya.

Sementara itu, pada kelompok dengan risiko sedang, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan yang lebih mendalam menggunakan Low-Dose CT Scan (LDCT). Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi kelainan paru secara lebih detail.

Jika tidak ditemukan kelainan yang mencurigakan, pasien dapat menjalani pemantauan atau observasi. Namun, jika ditemukan dugaan kanker paru melalui LDCT, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk menilai ukuran tumor untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

"Kalau misalnya dia risiko sedang kemudian kita langsung Low-dose CT Scan dan (misal) tidak ada apa-apa, biasanya pasien diobservasi. Tapi kalau di dalam Low-dose CT Scan ada kanker paru, biasanya kita ukur, karena ya ukuran juga berpengaruh," pungkas Linda.