Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian besar orang, berkeringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengatur suhu, terutama saat beraktivitas atau berada di bawah terik matahari. Namun, kondisi berbeda dialami pasien hiperhidrosis, yang dapat mengalami produksi keringat secara berlebihan dan tidak terkontrol.
Hiperhidrosis bukan sekadar mengganggu penampilan. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan mental dan kehidupan sosial penderitanya.
Advertisement
Dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika RS Pondok Indah Puri Indah dan Bintaro Jaya, Irwan Saputra Batubara, menjelaskan bahwa dampak hiperhidrosis dapat merembet hingga kondisi psikoemosional pasien.
"Kita tahu bahwa 70 persen orang dengan keringat berlebih, terutama pada ketiak, itu akan mengalami masalah kondisi psikoemosional seperti stres, depresi, anxious, kecemasan dan sebagainya," kata jelas Irwan dalam diskusi media yang digelar Rumah Sakit Pondok Indah Group di Jakarta pada Kamis (3/9/2026).
Menurut Irwan, penderita hiperhidrosis dapat merasa takut menjadi perhatian orang lain, cemas ketika harus berinteraksi, hingga kehilangan kepercayaan diri. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bahkan membuat pasien menarik diri dari lingkungan sosial.
“Pada beberapa kasus, sampai ada tendensi menarik diri dari hubungan sosial karena keringatnya yang mengganggu interaksi sosial,” ujarnya.
Beban mental ini menjadi perhatian khusus pada remaja dan dewasa muda. Pada usia tersebut, pembentukan identitas diri dan interaksi sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Irwan juga memaparkan data medis internasional yang menunjukkan bahwa dampak psikologis hiperhidrosis dapat menjadi serius, bahkan berisiko terhadap keselamatan jiwa.
"Sudah ada penelitian di Amerika, dikatakan bahwa setidaknya 35 persen anak-anak yang sedang berkembang itu menemukan adanya hiperhidrosis hingga mengganggu aktivitas sosial. 70 persen di antaranya sudah memiliki masalah atau sedang di dalam (fase) stres emosional ditambah dengan kecemasan, depresi, menarik diri. Pada beberapa orang, di antaranya sudah ada ide untuk dilakukan suicide," tambahnya.
Apa Itu Hiperhidrosis?
Irwan menjelaskan, hiperhidrosis merupakan kondisi ketika tubuh memproduksi keringat secara berlebihan, bahkan saat seseorang tidak sedang melakukan aktivitas berat.
Artinya, berkeringat setelah berolahraga atau melakukan aktivitas fisik berat tidak serta-merta dikategorikan sebagai hiperhidrosis. "Hiperhidrosis itu keringat yang saat kondisi tidak lagi aktivitas berat, lagi exercise atau olahraga, itu tidak didefinisikan sebagai hiperhidrosis," ujarnya.
Kecemasan Bisa Memicu Keringat Berlebih
Gangguan psikologis pada pasien hiperhidrosis juga sulit diputus karena membentuk siklus yang saling memicu.
Irwan menjelaskan, ketika penderita mulai merasa cemas atau stres karena keringat berlebih, sistem saraf simpatis tubuh dapat terpicu. Kondisi tersebut kemudian mengirimkan sinyal ke kelenjar keringat untuk memproduksi lebih banyak keringat.
Keringat yang semakin banyak dapat membuat pasien semakin cemas dan tidak percaya diri. Siklus ini kemudian dapat terus berulang dan memperburuk kondisi psikoemosional pasien.
Penyedotan Kelenjar Keringat Jadi Salah Satu Pilihan
Berbagai metode dapat digunakan untuk membantu mengatasi hiperhidrosis. Namun, sebagian pasien merasa terapi konvensional seperti antiperspirant belum cukup efektif.
Suntik botox juga dapat menjadi pilihan untuk mengurangi produksi keringat. Akan tetapi, menurut Irwan, efeknya bersifat sementara sehingga perlu diulang setiap 3-6 bulan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Salah satu pilihan lainnya adalah prosedur suction-curettage atau penyedotan kelenjar keringat, khususnya untuk hiperhidrosis pada area ketiak.
Prosedur ini dilakukan melalui sayatan kecil kurang dari 1 sentimeter untuk memasukkan kanula khusus ke bawah lapisan kulit ketiak.
Kanula kemudian digunakan untuk menyedot dan merusak kelenjar keringat secara lokal. Menurut Irwan, prosedur tersebut dilakukan tanpa mengganggu saraf utama, pembuluh darah, maupun organ tubuh lainnya.
"Sifatnya itu permanen, kenapa? Sekali kelenjar keringat itu kita buang dia tidak akan tumbuh lagi. Dan berdasarkan buktinya, itu terjadi penurunan atau perbaikan penurunan keringat sekitar 70 sampai 90 persen, terutama di daerah ketiak," pungkas Irwan.