Liputan6.com, Jakarta - Sekitar 1 dari 7 orang di dunia hidup dengan gangguan jiwa. Seseorang yang tampak sehat dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi sebenarnya sedang menghadapi masalah kejiwaan.
"1 dari 7 orang di dunia hidup dengan gangguan jiwa. Ini angkanya lebih besar dari diabetes, yang mana di dunia angkanya 1 dari 8 orang mengalami diabetes," kata Wakil Menteri Kesehatan, Profesor Dante Saksono Harbuwono.
Advertisement
Gangguan kesehatan jiwa bisa terjadi pada siapa saja karena tidak mengenal usia, jenis kelamin bahkan status ekonomi.
"Menurut data WHO, bila dari jenis kelamin perempuan sedikit lebih banyak. Perempuan 14,38 persen dari seluruh populasi perempuan dunia, sementara laki-laki 13 persen," kata Dante dalam Media Briefing Kesehatan Jiwa di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta, Jumat (4/9/2026) dipantau secara daring.
Maka dari itu masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi seseorang, terutama jika perubahan tersebut berlangsung secara konsisten selama lebih dari dua minggu. Tanda-tandanya dapat muncul dalam bentuk perubahan fisik, emosi, maupun perilaku.
Fisik
Beberapa tanda yang muncul diantaranya:
- Pola tidur dan nafsu makan berubah (bisa makan lebih sedikit atau malah lebih banyak)
- Keluhan fisik berulang tanpa sebab medis yang jelas
- Perubahan berat badan yang signifikan.
Emosi
- Suasana hati berubah tajam atau mudah tersinggung
- Cemas berlebihan atau merasa hampa selama lebih dari 2 minggu
- Kehilangan minat pada hal yang biasa dinikmati
Perilaku
- Menarik diri dari orang dan aktivitas sosial
- Sulit berkonsentrasi, performa kerja atau akademik di sekolah menurun
- Perubahan pola bicara atau aktivitas mencolok.
Kenali Gangguan Jiwa Sejak Awal
Dante mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai kondisi berkembang menjadi krisis. Menurutnya, mengenali gejala sejak awal dapat membantu seseorang memperoleh pertolongan lebih cepat.
“Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis,” tuturnya.
Upaya deteksi dini juga diperkuat melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari pelaksanaan CKG, ditemukan sekitar 35.000 anak atau 1,08 persen yang teridentifikasi mengalami gangguan jiwa. Sementara pada kelompok dewasa, ditemukan sekitar 186.000 orang dengan gangguan depresi dan kecemasan.
Selain melalui CKG, skrining kesehatan jiwa juga dapat dilakukan secara mandiri melalui SATUSEHAT menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Hasil skrining tersebut dapat membantu seseorang mengenali kondisi kesehatan jiwanya dan menentukan apakah membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.