Tak Perlu Jadi Ahli, Ini 4 Langkah Sederhana Bantu Orang dengan Gangguan Jiwa

Tidak perlu jadi sosok yang ahli tentang kejiwaan untuk membantu orang mengalami gangguan jiwa.

Diterbitkan 05 September 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwuno mengatakan banyak orang mengalami gangguan kejiwaan tapi tidak terlihat.

"Orang sebenarnya kelihatan sehat, tetapi kalau kita evaluasi, dia punya masalah. Tidak kelihatan secara fisik, tetapi secara mental dia punya masalah. Ini banyak sekali terjadi di lingkungan kita sehari-hari,” ujar Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dalam Media Briefing Kesehatan Jiwa di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Maka dari itu Dante mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya dan tidak menunggu hingga masalah berkembang menjadi krisis. Menurutnya, setiap orang dapat berperan membantu mereka yang sedang menghadapi masalah kejiwaan, tanpa harus menjadi seorang ahli.

“Tidak perlu menjadi ahli untuk menolong orang yang mengalami gangguan jiwa. Mulai dengan empat langkah sederhana: Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan,” kata Dante.

Langkah pertama adalah Tanya, dengan berani menanyakan kondisi seseorang ketika terlihat mengalami perubahan.

Kedua, Dengarkan, dengan memberikan ruang untuk bercerita tanpa menghakimi.

Ketiga, Temani, agar mereka mengetahui bahwa tidak harus menghadapi masalah seorang diri.

Keempat, Hubungkan, yaitu membantu menghubungkan mereka dengan keluarga atau tenaga profesional apabila membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Empat langkah tersebut penting dilakukan karena masalah kesehatan jiwa sering kali berkembang secara perlahan dan tidak langsung terlihat. Dukungan dari lingkungan terdekat dapat membantu seseorang mendapatkan pertolongan lebih awal, terutama ketika mulai menunjukkan tanda-tanda masalah kejiwaan.

1 dari 7 Orang dengan Gangguan Kejiwaan

Secara global, kata Prof. Dante, sekitar 1 dari 7 orang hidup dengan gangguan kejiwaan. Kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Untuk itu, masyarakat perlu mengenali perubahan yang terjadi pada aspek fisik, emosi, maupun perilaku, terutama apabila berlangsung secara konsisten selama lebih dari dua minggu. Gejalanya dapat berupa gangguan pola tidur, merasa lemas berulang, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok.

“Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis,” tegasnya.

Upaya deteksi dini juga terus diperkuat Kemenkes melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari pelaksanaan CKG, ditemukan sekitar 35.000 anak atau 1,08 persen yang teridentifikasi mengalami gangguan jiwa. Sementara pada kelompok dewasa, ditemukan sekitar 186.000 orang dengan gangguan depresi dan kecemasan.

Selain melalui CKG, skrining kesehatan jiwa juga dapat dilakukan secara mandiri melalui SATUSEHAT menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Hasil skrining dapat membantu seseorang mengenali kondisi kesehatan jiwanya dan menentukan apakah membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.

Masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa juga dapat mengakses Healing119 secara gratis melalui 119 ekstensi 8. Layanan ini menyediakan dukungan psikologis dan dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai.