5 Dampak Sering Makan Junk Food, Bukan Cuma Bikin Gemuk

Sering makan junk food tak hanya bikin gemuk. Kenali dampaknya pada gula darah, tidur, mood, dan usus.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 07 September 2026, 18:57 WIB
Waspadai dampak sering makan junk food, mulai dari cepat lapar hingga gangguan gula darah dan kesehatan usus. (Foto: Kanaya Nanda Putri/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Makanan cepat saji atau yang sering disebut junk food memang memiliki tampilan menarik dan rasa yang menggugah selera. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, terutama dalam porsi besar, makanan ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Dampak junk food tidak hanya berkaitan dengan kenaikan berat badan. Kebiasaan mengonsumsinya juga dapat memengaruhi cara tubuh mengatur rasa lapar, energi, kadar gula darah, metabolisme, kesehatan usus, suasana hati, hingga kualitas tidur.

Makanan yang umumnya tinggi kalori tetapi rendah serat dan nutrisi ini bahkan dapat memberikan efek dalam waktu relatif cepat. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lapar dan terjebak dalam pola makan berlebihan yang berulang, dikutip dari Verywell Health, Senin (7/9/2026).

Lebih Cepat Merasa Lapar

Salah satu dampak yang dapat dirasakan setelah mengonsumsi junk food adalah rasa lapar yang lebih cepat muncul.

Meski terasa nikmat, junk food cenderung tidak memberikan rasa kenyang yang bertahan lama. Makanan ini umumnya lebih cepat dicerna dan rendah protein serta serat, padahal kedua nutrisi tersebut berperan penting dalam mempertahankan rasa kenyang.

Selain itu, sejumlah junk food, terutama camilan kemasan dan makanan manis, memiliki indeks glikemik dan beban glikemik yang relatif tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat kadar gula darah meningkat dengan cepat dan rasa lapar kembali muncul dalam waktu yang lebih singkat.

Memengaruhi Suasana Hati dan Tidur

Kombinasi gula, garam, dan lemak dalam junk food dapat mengaktifkan sistem penghargaan (reward system) di otak sehingga makanan terasa semakin menarik dan memuaskan.

Namun, setelah efek tersebut berlalu, perubahan kadar gula darah dan hormon yang mengatur rasa lapar dapat mendorong keinginan untuk makan kembali. Kondisi ini juga dapat disertai penurunan energi dan perubahan suasana hati.

Mengonsumsi junk food dalam porsi besar menjelang tidur juga dapat mengganggu kualitas istirahat. Kadar glukosa yang meningkat, rasa tidak nyaman pada pencernaan, hingga refluks asam dapat membuat tidur menjadi kurang nyenyak.

Proses pencernaan yang lebih lambat pada malam hari juga dapat memperburuk rasa tidak nyaman. Jika terjadi berulang, kualitas tidur yang buruk berpotensi menambah tekanan metabolik pada tubuh.

Memicu Kenaikan Berat Badan

Karena tidak memberikan rasa kenyang dalam waktu lama, junk food lebih mudah dikonsumsi secara berlebihan. Makanan ini juga umumnya memiliki kepadatan kalori tinggi dibandingkan kandungan nutrisinya.

Ketika asupan kalori terus-menerus lebih tinggi daripada energi yang digunakan tubuh, berat badan dapat meningkat. Kelebihan energi tersebut kemudian dapat disimpan sebagai lemak, termasuk di area perut.

Pola makan berlebihan yang terjadi berulang juga dapat membuat seseorang semakin sulit mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi.

Gula Darah Bisa Naik dengan Cepat

Minuman manis, permen, kue, serta camilan berbahan tepung olahan dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat setelah dikonsumsi.

Tubuh kemudian merespons dengan melepaskan insulin untuk membantu mengendalikan kadar glukosa dalam darah. Setelah itu, kadar gula darah dapat kembali menurun.

Ketika kadar glukosa turun, hormon ghrelin yang berkaitan dengan rasa lapar dapat meningkat sehingga keinginan untuk makan kembali muncul.

Jika lonjakan dan penurunan gula darah terjadi berulang dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin, yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2.

Memengaruhi Peradangan dan Bakteri Usus

Konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan juga dikaitkan dengan peradangan dalam tubuh.

Sebuah studi pada 2025 menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan high-sensitivity C-reactive protein (CRP), salah satu penanda peradangan.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan ultra-proses juga dapat mengurangi keragaman nutrisi yang masuk ke saluran pencernaan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi bakteri yang hidup di usus dan menurunkan keragaman mikrobioma.

Padahal, keseimbangan mikrobioma usus penting untuk mendukung kesehatan saluran pencernaan. Berkurangnya keragaman mikrobioma juga dapat memengaruhi produksi senyawa yang berperan dalam menjaga kesehatan usus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya