Liputan6.com, Jakarta - Menjalani diet untuk menurunkan berat badan bukan berarti harus menghilangkan seluruh makanan yang disukai. Justru, diet yang terlalu ketat berisiko sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Registered Dietitian, Nutrition Speaker, Elsa Hilman-Jenie, mengatakan kesadaran dan konsistensi menjadi dua hal penting dalam menjalani diet. Menurutnya, seseorang perlu memiliki kemauan dari dalam diri agar perubahan pola makan dapat bertahan.
Advertisement
"Kesadaran menurunkan berat badan itu nggak semua orang punya. Untuk melakukan sebuah diet, konsistensi itu nggak mudah dan memang bisa berjalan kalau orangnya sadar," ujar Elsa kepada Kesehatan Liputan6.com dalam acara IHDC Youth x PERMIAS Nasional Roundtable Discussion bertema 'Exploring Nutrition and Food Security in Indonesia' belum lama ini.
Diet Tak Harus Tinggalkan Makanan Favorit
Elsa menekankan bahwa diet tidak perlu dilakukan dengan terlalu ketat. Salah satunya dengan menghindari kebiasaan mengeliminasi makanan favorit secara total. "Jangan pernah memaksakan diet dengan mengeliminasi sama sekali makanan yang kamu suka. Karena tidak akan bertahan lama nanti dietnya," kata Elsa.
Dia mencontohkan seseorang yang terbiasa mengonsumsi nugget saat sarapan. Menurut Elsa, makanan tersebut tetap boleh dikonsumsi selama porsinya disesuaikan.
"Jadi, misalnya suka banget nih makan sarapan pakai nugget gitu, boleh, nggak ada masalah. Tapi porsinya disesuaikan. Kan itu juga makanan yang instan gitu, ya," tambahnya.
Menurut Elsa, pola makan sehat sebaiknya tetap menjadi bagian terbesar dalam menu sehari-hari. Namun, makanan yang disukai masih dapat dikonsumsi agar diet terasa lebih fleksibel dan tidak membuat seseorang merasa terkekang.
"Jadi, diet itu tidak akan menjadi membosankan dan tidak akan terlalu mengekang," ujarnya.
Pendekatan Diet Berbeda Tiap Usia
Elsa juga mengatakan edukasi mengenai pola makan perlu disesuaikan dengan kelompok usia. Pendekatan untuk anak, remaja, dan orang dewasa tentu tidak bisa disamakan.
Pada remaja, misalnya, pendekatan body image dinilai cukup relevan. Terlebih, media sosial membuat remaja semakin sering melihat figur yang dianggap memiliki bentuk tubuh ideal.
"Karena remaja tuh biasanya punya, apalagi sekarang zamannya sosial media, ya, mereka biasanya punya seseorang yang dijadikan panutan. Misalnya,'Wah, bodinya bagus nih, gue pengin deh berotot kayak dia' atau 'Gue pengin deh slim kayak si influencer ini', misalnya gitu," kata Elsa.
Diet Sehat Tak Harus Mahal
Elsa turut menyoroti anggapan bahwa diet harus menggunakan makanan tertentu yang mahal atau sulit ditemukan. Menurutnya, pilihan makanan sehat dapat disesuaikan dengan akses yang tersedia di sekitar.
Dia menceritakan pengalamannya saat menangani seorang atlet perantau yang tengah mempersiapkan diri untuk PON 2021. Karena tinggal jauh dari daerah asal, warteg menjadi salah satu pilihan makanan yang paling mudah dijangkau.
"Jadi nggak usah mikirlah diet itu harus makan edamame, atau mungkin kayak with sesame dressing, nggak harus kayak gitu. Just use the closest access possible from you," kata Elsa.
Menurutnya, pola makan yang baik bukan semata-mata soal makanan mahal, melainkan bagaimana seseorang dapat menyesuaikan pilihan makanan dengan kebutuhan, kondisi, dan kemampuan masing-masing.
Elsa pun mencontohkan sang atlet yang berhasil mencapai target dari pelatihnya, yakni meningkatkan massa otot sekaligus menurunkan massa lemak agar tetap memiliki tubuh yang ringan untuk cabang olahraga lompat jangkit.
"Kalau atlet yang profesional aja bisa, pasti kita gitu," pungkas Elsa.