Liputan6.com, Jakarta - Perlindungan terhadap rotavirus kini dapat dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan bayi. Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal yang dikembangkan PT Bio Farma (Persero) bersama Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), resmi mengantongi Nomor Izin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, kehadiran Bio-RV menjadi langkah penting untuk menekan risiko kematian akibat diare pada bayi.
Advertisement
Rotavirus merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian pada bayi. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian karena bayi berada pada fase rentan terhadap infeksi, terutama pada usia 1 hingga 1,5 bulan pertama kehidupan.
"Dengan hadirnya vaksin Bio-RV yang dapat diberikan sejak dini, kita berharap angka kematian tersebut dapat diturunkan secara signifikan," kata Taruna dalam kegiatan SIGMA 2026 pada Senin, 7 September 2026, di Bandung.
Taruna menekankan bahwa BPOM berkomitmen mempercepat akses terhadap vaksin inovatif tanpa mengurangi standar keamanan dan pengawasan. "Produk ini telah memenuhi berbagai standar uji klinis dan asesmen ketat oleh Komite Nasional Penilai Obat serta para ahli di BPOM," ujarnya.
Lebih lanjut, Taruna, menambahkan,"Kami berkomitmen untuk memastikan obat dan vaksin berinovasi tinggi, berkualitas, dan aman dapat diakses lebih cepat oleh masyarakat Indonesia, tanpa pernah menurunkan standar pengawasan kami sedikit pun."
Bisa Diberikan Sejak Bayi Baru Lahir
Bio-RV merupakan vaksin rotavirus hidup yang dilemahkan secara alami dan diberikan secara oral. Salah satu karakteristiknya adalah vaksin ini dapat diberikan sejak periode neonatal atau saat bayi baru lahir.
Vaksin Bio-RV diberikan dalam tiga dosis. Dosis pertama diberikan saat bayi berusia nol sampai lima hari, dosis kedua pada usia delapan hingga 10 minggu, dan dosis ketiga pada usia 12–14 minggu.
Pemberian sejak periode neonatal memungkinkan perlindungan terhadap infeksi rotavirus mulai dibangun pada fase awal kehidupan bayi. Hal ini penting karena rotavirus masih menjadi salah satu penyebab utama diare berat pada bayi dan balita.
Berdasarkan data Indonesia Rotavirus Surveillance Network periode 2001 s.d 2017 yang dirujuk Kementerian Kesehatan, rotavirus menyebabkan sekitar 41–58 persen kasus diare pada balita yang menjalani rawat inap.
Diare berat atau berulang tidak hanya menyebabkan kehilangan cairan. Kondisi ini juga dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan pada anak.
Bio Farma Dorong Perlindungan Sedini Mungkin
Bio Farma resmi memperoleh izin edar Bio-RV pada 2 September 2026. Sebelum izin diterbitkan, BPOM mengevaluasi aspek keamanan, khasiat, dan mutu vaksin sesuai standar serta ketentuan regulasi yang berlaku.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan, terbitnya izin edar Bio-RV merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan inovasi vaksin sekaligus memperkuat kemampuan nasional dalam pengembangan dan produksi vaksin.
"Bio-RV bukan hanya tentang hadirnya satu produk vaksin baru. Di balik pencapaian ini terdapat perjalanan panjang pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan proses, uji praklinis dan klinis, alih teknologi, registrasi, serta penyiapan manufaktur," ujar Shadiq.
Menurut Shadiq, kemampuan Bio-RV diberikan sejak periode neonatal membuka peluang untuk memberikan perlindungan terhadap rotavirus sedini mungkin.
Berawal dari Strain Rotavirus Neonatal
Pengembangan Bio-RV berawal dari kandidat vaksin RV3-BB yang menggunakan strain rotavirus neonatal dan dikembangkan oleh MCRI.
Sejarahnya bermula pada 1982 ketika Profesor Ruth Bishop dari MCRI mengidentifikasi RV3, strain rotavirus unik yang dapat menginfeksi bayi baru lahir tanpa menyebabkan penyakit.
Strain tersebut kemudian diketahui memiliki kemampuan memberikan perlindungan terhadap diare berat akibat rotavirus.
Pengembangan RV3-BB selanjutnya dipimpin Profesor Julie Bines dari MCRI melalui berbagai tahapan penelitian dan uji klinis di Australia, Selandia Baru, dan Indonesia.
Pengembangan Bio-RV juga melibatkan kolaborasi Bio Farma dan MCRI dengan sejumlah mitra, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga melalui Airlangga Integrated Research Clinic (AIRC), dan PATH.
Terbitnya izin edar Bio-RV menjadi tonggak penting dalam pengembangan vaksin rotavirus neonatal. Kehadiran vaksin ini sekaligus membuka peluang perlindungan terhadap infeksi rotavirus sejak fase paling awal kehidupan bayi.