Berbagi Sikat Gigi dengan Pasangan Bukan Sekadar Bertukar Air Liur

Berbagi sikat gigi, handuk, dan pisau cukur bisa menularkan mikroba. Kenali risikonya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 10 September 2026, 14:00 WIB
Berbagi sikat gigi, handuk, atau pisau cukur sebaiknya tidak menjadi kebiasaan. Mikroba dapat berpindah melalui perlengkapan pribadi dan meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit. (Ilustrasi sikat gigi/Photo by Phuong Tran on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Berbagi sikat gigi dengan pasangan mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, kebiasaan ini ternyata dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Dokter gigi sekaligus Trustee Oral Health Foundation, Dr. Ben Atkins, mengingatkan masyarakat agar tidak berbagi sikat gigi, termasuk dengan orang terdekat.

“Meski berbagi sikat gigi mungkin terlihat seperti bentuk perhatian, sebenarnya itu bukan ide yang baik. Berbagi sikat gigi membuat seseorang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan mulut maupun kesehatan secara umum,” kata Dr. Atkins.

Menurutnya, kebiasaan mencium pasangan atau sesekali menggunakan garpu dan sendok yang sama saat makan bukan alasan untuk menggunakan sikat gigi milik pasangan.

Pasalnya, menyikat gigi terkadang dapat menyebabkan gusi berdarah. Kondisi ini membuat orang yang berbagi sikat gigi berisiko terpapar penyakit yang dapat ditularkan melalui aliran darah.

“Dengan berbagi sikat gigi, Anda mungkin juga berbagi darah. Risikonya jauh lebih besar dibandingkan sekadar bertukar air liur,” ujarnya.

Satu dari Tujuh Orang Inggris Bersedia Berbagi Sikat Gigi

Meski memiliki risiko kesehatan, sebagian masyarakat ternyata masih bersedia berbagi sikat gigi.

Penelitian yang dilakukan dalam rangka National Smile Month menemukan, sekitar satu dari tujuh warga Inggris atau 15 persen responden bersedia berbagi sikat gigi dengan pasangan atau orang yang mereka cintai.

Selain pasangan, 8 persen responden bersedia berbagi sikat gigi dengan anggota keluarga. Sebanyak 5 persen memilih teman, sedangkan 4 persen lainnya bahkan bersedia berbagi dengan tetangga.

Semakin muda usia seseorang, semakin terbuka pula mereka terhadap kebiasaan tersebut. Sebanyak 6 persen responden berusia 25–35 tahun mengaku bersedia berbagi sikat gigi dengan seorang selebritas.

Padahal, mulut manusia menjadi tempat hidup ratusan jenis bakteri dan virus. Mikroba tersebut dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui sikat gigi.

Dampaknya bisa ringan, seperti pilek atau luka lepuh di bibir. Namun, dalam kondisi tertentu, penularan mikroba dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Sikat Gigi Bisa Menjadi Media Penularan

Risiko berbagi sikat gigi tidak hanya berasal dari air liur. Sikat gigi juga dapat menyebabkan gusi berdarah dan menjadi media penularan virus yang menyebar melalui darah, seperti hepatitis C.

Selain itu, sikat gigi dapat terkontaminasi bakteri yang berpotensi menyebabkan penyakit, termasuk Staphylococcus aureus atau Staph, E. coli, dan Pseudomonas.

Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), penyebab luka lepuh atau cold sores, juga dapat ditemukan pada sikat gigi dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan infeksi. Virus tersebut dapat bertahan selama dua hingga enam hari pada benda berbahan plastik.

Dr. Nigel Carter OBE, Chief Executive Oral Health Foundation, mengatakan cara sederhana untuk mengurangi risiko tersebut adalah menggunakan sikat gigi sendiri, seperti dikutip dari dentalhealth.org pada Kamis, 10 September 2026.

"Hal ini dapat dikendalikan dengan hanya menggunakan sikat gigi sendiri. Dengan menghindari penggunaan sikat gigi milik orang lain, Anda dapat mencegah tercampurnya bakteri dan plak. Ini akan membantu melindungi kesehatan diri sendiri maupun orang lain," katanya.

Handuk dan Pisau Cukur Juga Sebaiknya Tidak Dipakai Bersama

Risiko perpindahan mikroba tidak hanya berlaku pada sikat gigi. Handuk dan pisau cukur juga sebaiknya digunakan secara pribadi, seperti dikutip dari Independent.

Sebuah laporan dari Amerika Serikat menemukan pemain sepak bola sekolah menengah yang berbagi handuk memiliki kemungkinan delapan kali lebih besar terkena infeksi Staph.

Staph dapat menyebabkan impetigo atau infeksi kulit. Dalam kasus yang jarang terjadi, infeksi ini dapat berkembang menjadi syok septik yang mengancam nyawa dan menyebabkan kegagalan organ.

Risiko penularan kemungkinan lebih tinggi karena olahraga kontak dapat menyebabkan luka, goresan, atau lecet pada kulit.

Pisau cukur juga memiliki risiko serupa. Penggunaannya hampir tidak mungkin sepenuhnya terhindar dari luka kecil sehingga berbagi pisau cukur dapat meningkatkan risiko penularan virus yang menyebar melalui darah.

Handuk, pisau cukur, dan perlengkapan kebersihan pribadi lainnya juga dapat menyebarkan human papillomavirus (HPV), virus yang dapat menyebabkan kutil.

Meski risiko tertular infeksi dalam satu kali penggunaan bersama tergolong rendah, bukan berarti kebiasaan tersebut perlu dilakukan.

Menggunakan perlengkapan kebersihan pribadi sendiri merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko perpindahan mikroba sekaligus menjaga kesehatan diri dan orang lain.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya