Kemenkes: 16.759 Kasus ISPA di 4 Wilayah Terdampak Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau

Wamenkes Dante sebut sekitar 3 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi pada anak usia nol hingga lima tahun.

Diterbitkan 10 September 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga 6 September 2026 terdapat 16.759 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kasus ISPA tersebut tersebar di empat provinsi yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat meliputi 23 kabupaten/kota.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun, sedangkan 12.988 kasus ditemukan pada kelompok usia di atas 5 tahun.

Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, berdasarkan pemantauan Kemenkes kasus ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Maka dari itu masyarakat diimbau tetap waspada. Terlebih meski abu vulkanik di beberapa wilayah sudah tipis tapi berdasarkan pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter ternyata kualitas udara tidak sehat seperti di area Bandara Soekarno Hatta, Banten.

“Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada," tutur Dante pemantauan kualitas udara secara langsung di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu (9/9/2026). 

"Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan,” tutur Dante.

Melihat temuan itu, Dante mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik. Caranya dengan dengan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara belum baik.

Stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan,” pesan sosok yang juga dokter spesialis penyakit dalam konsultan itu. 

Lalu, untuk kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit tertentu sebaiknya minim melakukan aktivitas di luar rumah.

Pemantauan Kualitas Udara di Bandara Soetta

Pemantauan kualitas udara dilakukan di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu (9/9/2026). Pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5.

Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 di sejumlah area luar ruangan masih berada di atas batas aman. Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, pengukuran menunjukkan PM2,5 sebesar 63 µg/m³, sementara batas aman PM2,5 adalah 25 µg/m³.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas penerbangan telah dapat berjalan berdasarkan hasil paper test, tapi aspek kualitas udara dari perspektif kesehatan masyarakat tetap perlu diperhatikan.

“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujar Prof. Dante.

Pengukuran menggunakan particulate counter penting untuk mengetahui konsentrasi partikulat berukuran kecil yang dapat berdampak terhadap kesehatan dan tidak selalu terlihat secara kasatmata.

“Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi,” jelas Dante.

Berdasarkan hasil pemantauan Kemenkes pada 8 September 2026, sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya masih menunjukkan konsentrasi PM2,5 dan PM10 yang melebihi batas aman. Pengukuran dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) menggunakan Air Quality Detector/Particulate Counter.