Anak Sering Konsumsi Jajanan UPF? Bisa Bikin Tak Suka Makanan Rumahan

Konsumsi UPF bukan hanya berisiko memicu kegemukan, tetapi juga dapat mengaktifkan bakat alergi dan memicu kekambuhan pada anak.

Diterbitkan 10 September 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Makanan anak masa kini di pasaran didominasi oleh produk olahan pabrik dengan banyak tahapan pemrosesan disertai dengan zat aditif atau dikenal dengan ultra-processed food (UPF). Makanan ini biasanya punya bentuk dan rasa yang beragam serta menarik. Sayangnya, terlalu sering mengonsumsi UPF menyimpan risiko kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.

Produk UPF secara umum dirancang dengan formulasi buatan pabrik yang cenderung tinggi gula, garam, dan lemak.

Pada jangka pendek, kombinasi zat gizi yang tidak seimbang ini menjadi penyebab utama terjadinya kenaikan berat badan berlebih atau obesitas pada anak seperti disampaikan dokter spesialis gizi klinik konsultan penyakit metabolik, Nurul Ratna Mutu Manikam. 

“Kalau jajanan itu kan isinya UPF ya, artinya kan buatan pabrik. Biasanya itu kalau tidak tinggi gula, lemak, natrium. Efek jangka pendeknya memang menyebabkan anak itu jadi obesitas ya, terutama sugar ya,” ujar Nurul dalam acara peluncuran “Gut and Immunity Council” di Jakarta pada Rabu (9/9/2026).

Ketika anak terbiasa mengonsumsi makanan dengan eprasa buatan serta penguat rasa yang tinggi maka lidah terbiasa dengan cita rasa yang kuat. Alhasil, mereka kerap menolak saat disajikan makanan rumahan yang lebih sehat dan bergizi seimbang.

“Terus tidak mau makan. Maksudnya, makanan rumahan jadi tidak suka, terus jadinya obesitas," tambah Nurul.

 

Pemicu Alergi dan Kekambuhan Asma

Dampak lain jajanan UPF ternyata tidak berhenti pada masalah berat badan. Anak-anak yang memiliki riwayat atau genetik alergi dan asma dari orangtua, ketika mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia serta tingginya natrium yang biasa dalam UPF dapat muncul reaksi di tubuh.

Iritasi atau reaksi kekebalan tubuh dapat bervariasi, mulai dari timbulnya ruam pada kulit (rash), gejala bersin-bersin, hingga peradangan hidung atau rhinitis.

"Terus buat anak-anak yang punya bakat alergi di orang tuanya, entah salah satu atau kedua orang tuanya, itu jadi mudah terkena alergi. Jadi kayak rash gitu, atau mungkin bersin-bersin, atau rhinitis," jelasnya.

Selain itu, kadar natrium yang berlebihan dalam darah juga diketahui dapat memicu penyempitan saluran napas pada anak yang memiliki bakat asma.