Liputan6.com, Jakarta - Rasa marah merupakan emosi yang wajar dan bisa dialami siapa saja. Namun, ketika amarah muncul, otak sebenarnya mengalami serangkaian perubahan yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, hingga bertindak.
Rasa marah mengaktifkan respons fight-or-flight yang membuat tubuh bersiap menghadapi atau menghindari ancaman, dilansir Verywell Mind pada Kamis (10/9/2026).
Advertisement
Pakar Noah Kass, DSW, LCSW, menjelaskan bahwa ketika seseorang marah, detak jantung meningkat. Pada saat yang sama, aktivitas korteks prefrontal, bagian otak yang berperan dalam pemikiran rasional, dapat menurun.
Respons tersebut melibatkan beberapa bagian otak, salah satunya amigdala. Struktur kecil berbentuk seperti kacang almond ini berperan dalam mengatur emosi, memori, dan pembelajaran.
Ketika mendeteksi sesuatu sebagai ancaman, amigdala mengirimkan sinyal ke hipotalamus. Selanjutnya, hipotalamus memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi tubuh tanpa disadari, termasuk detak jantung, tekanan darah, pernapasan, dan pencernaan.
Akibatnya, detak jantung meningkat dan napas menjadi lebih cepat serta dangkal.
Sementara itu, korteks prefrontal berperan dalam penalaran, pengendalian diri, penilaian, serta kemampuan mempertimbangkan sesuatu sebelum bertindak.
Psikiater Alex Dimitriu, MD, mengatakan bahwa ketika amarah meningkat, sistem emosional menjadi lebih aktif, sedangkan korteks prefrontal semakin tertekan.
“Kondisi ini bisa mengarah pada tindakan irasional, bahkan nantinya membuat menyesal,” kata Dimitriu.
Perubahan saat marah juga melibatkan sejumlah zat kimia, seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin. Zat-zat tersebut meningkatkan kewaspadaan sehingga perhatian seseorang dapat sangat terfokus pada hal yang memicu kemarahan.
Akibatnya, seseorang bisa kesulitan melihat situasi dari sudut pandang lain atau mengambil keputusan dengan tenang.
Tubuh Ikut Bereaksi Saat Marah
Perubahan ketika marah tidak hanya terjadi di otak. Tubuh juga menunjukkan berbagai respons, seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah, otot menegang, pernapasan menjadi lebih cepat dan dangkal, pencernaan melambat, serta suhu tubuh meningkat.
Beberapa tanda fisik yang dapat terlihat antara lain wajah memerah, pupil melebar, berkeringat, rahang atau tangan mengepal, hingga perubahan postur tubuh.
Kondisi fisik dan mental tersebut kemudian dapat membentuk siklus yang semakin meningkatkan rasa marah.
Meski begitu, marah tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. Menurut Kass, kemarahan dapat membantu seseorang mengenali batasan, menyadari kebutuhan yang belum terpenuhi, dan mendorong perubahan.
Masalah dapat muncul ketika amarah berlangsung berlebihan dan sulit dikendalikan.
Dalam kondisi tersebut, amigdala dapat menjadi lebih reaktif, sementara hubungan dengan korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian emosi dapat berkurang.
Dalam jangka panjang, kemarahan yang berlebihan juga dapat memengaruhi memori, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular, melemahnya sistem kekebalan tubuh, gangguan pencernaan, serta kesulitan tidur.
Dampaknya juga dapat meluas ke kehidupan sosial, termasuk mengganggu hubungan dan performa seseorang saat berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Cara Mengelola Amarah
Untuk kemarahan ringan yang muncul sesekali, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti berhitung sampai 10 dan mengambil beberapa tarikan napas dalam.
Cara tersebut dapat membantu menenangkan tubuh sekaligus memberi waktu bagi korteks prefrontal untuk kembali berperan.
Kass juga menyarankan untuk mengenali tanda-tanda awal kemarahan dan memahami emosi yang mendasarinya.
Latihan pernapasan, relaksasi otot, serta mengambil jeda dari situasi yang memicu kemarahan juga dapat membantu.
Jika kemarahan sulit dikendalikan hingga mengganggu kehidupan pribadi atau pekerjaan, diperlukan strategi jangka panjang.
Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain terapi seperti CBT (cognitive behavioral therapy) atau DBT (dialectical behavior therapy), latihan mindfulness, serta journaling untuk mencatat pemicu dan respons terhadap kemarahan.