Si Selalu Peka, Punya Empati Tinggi Ternyata Bisa Bikin Lelah

Seseorang yang mudah memahami perasaan orang dan tersentuh, disebut-sebut berempati tinggi, atau sebutannya 'empath'. Begini ciri-cirinya.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anda mungkin pernah bertemu orang atau teman yang berempati tinggi, atau disebut empath. Artinya, dia bisa merasa dan memahami berbagai emosi secara mendalam.

Orang-orang berempati tinggi sering kali menangkap emosi orang lain seolah itu miliknya sendiri. Namun, kebiasaan itu bisa berpengaruh pada batasan untuk menjaga kesejahteraan diri. 

Seseorang dapat mengenali dirinya sebagai seorang empath melalui beberapa ciri, mengutip Verywell Mind, Kamis (20/8/2026). 

1. Empati Tinggi

Orang-orang dengan karakter seperti ini sangat mahir membaca perasaan orang lain, sangat bertolak belakang dengan tipe orang yang cenderung cuek dan ‘bodo amat’. 

2. Intuisi Kuat

Orang ini kerap melibatkan insting saat mengambil keputusan. Kepekaan yang dimiliki menangkap sinyal-sinyal kecil dari orang dan lingkungan sekitar. 

3. Kepedulian Luar Biasa

Tipe orang empath cenderung sangat peduli pada orang lain. Ia hangat dan selalu berusaha membuat bikin orang lain merasa aman, nyaman, dan bahagia. Saking besarnya rasa peduli, ia sering kali kesusahan menguatkan batasan diri.

4. Peka 

Tidak cuma peka terhadap emosi, mereka juga sensitif dengan hal-hal fisik, seperti terganggu oleh suara bising atau aroma yang terlalu menyengat.

 

Ketahui Apakah Anda Seorang Empath

Tingkat empati itu memiliki cakupan, dari yang sangat sensitif sampai yang tidak punya empati sama sekali. Lantas, bagaimana cara setiap individu mengukur apabila mereka berempati? 

Seseorang dapat memulainya dengan refleksi lewat beberapa pertanyaan atau penilaian diri sederhana, seperti apakah mudah ketularan stres dari orang lain, sering disebut ‘terlalu sensitif’, rasa kewalahan di tengah keramaian, hingga seberapa sanggup ketika menonton berita duka atau film sedih.

Beberapa pakar seperti Dr. Judith Orloff juga menyoroti apakah seseorang sering merasa 'tidak cocok' dengan lingkungan sekitar. 

Namun, karena tidak ada kriteria medis yang baku, menentukan apakah individu adalah seorang empath sebenarnya bersifat subjektif dan kembali ke penilaian diri sendiri.

 

Tantangan Seorang Empath

Punya kemampuan menyerap emosi orang lain mungkin terdengar hal yang baik, namun praktiknya sering kali menguras energi. Ada beberapa tantangan nyata yang kerap bikin kewalahan orang-orang dengan tipe ini.

Pertama, mudah merasa lelah di keramaian. Acara dengan intensitas emosi tinggi, baik pesta pernikahan yang heboh sampai momen duka, dapat membuat seorang empath kehabisan energi.

Kedua, kesulitan untuk rileks dan mengganggu kualitas tidur. Dalam hal ini, membawa 'beban' emosi orang lain secara terus-menerus membuat seorang empath dianggap sulit mencapai rasa tenang.

Tanpa batasan yang jelas terhadap pengaruh dari luar, kesehatan mental hingga pola tidur mereka bisa jadi korbannya.

Ketiga, orang lain mungkin saja bisa risih. Hal ini berarti, tidak semua orang merasa nyaman jika perasaannya dibaca dengan terlalu mudah.

Meski niat yang datang murni ingin membantu, kepekaan berlebih ini kadang justru dianggap terlalu mengusik atau melewati ranah pribadi orang lain.