Usia 30-an Bisa Kena Serangan Jantung, Pengalaman Yendi Jadi Pelajaran

Bukan lagi terjadi pada usia 50 ke atas. Orang yang berusia 30-an juga bisa mengalami serangan jantung.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 18 September 2026, 08:00 WIB
Cerita Yendi alami serangan jantung di usia 36. Meski punya anggota keluarga dengan riwayat serupa, ia tak menyangka bisa terjadi di usia 30-an.

Liputan6.com, Cimahi - Serangan jantung kerap dianggap sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Namun, pengalaman Yendi, warga Cimahi, Jawa Barat, menjadi pengingat bahwa kondisi tersebut juga bisa terjadi pada usia 30-an.

Pria 36 tahun ini pada awal September 2026 ini baru saja menjalani tindakan PCI (Percutaneous Coronary Intervention) atau yang dikenal sebagai prosedur pasang ring jantung.

Yendi tidak menyangka keluhan yang muncul pada akhir Agustus 2026 ternyata merupakan serangan jantung. Saat itu, ia mengalami serangkaian gejala yang membuatnya segera dilarikan ke RS Dustira Kota Cimahi, Jawa Barat.

“Saat itu sesak napas, mulut pahit dan enggak bisa bangun sama sekali. Sama sekali enggak bisa bangun. Itu baru kejadian sekali itu,” ujar Yendi kepada Liputan6.com usai sesi bersama BPJS Kesehatan di RS Dustira pada Rabu (16/9/2026).

Ia terkejut karena selama ini riwayat penyakit jantung di keluarganya lebih banyak ditemukan pada anggota keluarga yang berusia di atas 50 tahun.

“Memang kalau dari keturunan saya punya keturunan dari keluarga, tapi rata-rata di atas 50-an tahun ke atas kena penyakit jantung. Maka saya, keluarga kaget, kok umur segini kena serangan jantung,” tutur pegawai swasta ini. 

Pada 29 Agustus 2026 ia menjalani perawatan di UGD RS Dustira  menjalani pemeriksaan hingga tindakan cardiac catheterization laboratory (cathlab).

Ia sempat masuk ruang ICU dan awalnya menolak ketika disarankan menjalani tindakan lebih lanjut.

Ketakutan terhadap prosedur pemasangan ring jantung menjadi salah satu alasannya. Yendi mengaku sempat membayangkan pemasangan ring dilakukan dengan cara membedah bagian dada.

“Sempat nolak karena takut. Sempat dengar isu-isu kayak dibelek gitu di dada,” katanya.

Namun, pemahaman Yendi berubah setelah mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan di rumah sakit. Perawat dan tenaga medis menjelaskan bagaimana prosedur pemasangan ring dilakukan, termasuk akses yang digunakan untuk memasukkan alat.

Setelah memahami prosedurnya, Yendi akhirnya bersedia menjalani pemasangan stent jantung pada 2 September 2026.

“Dijelaskan cara pemasangan, baru bersedia. Kan lewat tangan,” ujar peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) BPJS Kesehatan ini.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi Yendi bahwa informasi yang diterima dari orang lain tidak selalu menggambarkan prosedur medis yang sebenarnya. Edukasi dari tenaga kesehatan membantunya memahami tindakan yang akan dijalani sehingga ia lebih siap mengambil keputusan terkait pengobatannya.

 

Penyakit Jantung Nomor Satu Sedot Pembiayaan JKN

Jantung berada di peringkat satu penyakit dengan pembiayaan terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sepanjang 2025, tercatat 29.734.406 kasus terkait penyakit jantung dengan total biaya pelayanan mencapai Rp 17,35 triliun.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan, kasus pelayanan kardiovaskular terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya terlihat dari penggunaan layanan cathlab.

"Kalau serangan jantung harus ditolong secepatnya.  Maka perlu Cathlab yang bisa standby 24 jam," kata Pujo di kesempatan yang sama.

Selain mendorong pelayanan yang cepat pada kondisi gawat darurat, Pujo juga mengingatkan tentang pentingnya upaya promotif dan preventif. Hal ini ternyata juga bisa mengendalikan biaya kesehatan.

“Banyak kejadian kardiovaskular berbiaya tinggi adalah dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu. Untuk itu, diperlukan penguatan pada layanan primer,” kata Prihati Pujowaskito.

Salah satunya dengan penguatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik. Pada kasus penyakit jantung koroner misalnya, pasien tidak tiba-tiba alami jantung koroner. Pasti ada faktor risiko di belakangnya seperti diabetes, darah tinggi atau kolesterol tinggi. Jika penyakit yang bisa dikontrol itu terkontrol maka bisa meminimalkan terjadinya masalah kesehatan yang kompleks.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya