Cegah Stunting, Dokter Tekankan Pentingnya ASI Sejak Lahir

ASI menjadi langkah awal cegah stunting. Simak penjelasan dokter tentang manfaatnya bagi bayi.

Diterbitkan 18 September 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Upaya cegah stunting perlu dimulai sejak awal kehidupan. Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah memberikan Air Susu Ibu (ASI) sejak bayi lahir, terutama selama enam bulan pertama kehidupan.

Dokter Spesialis Anak di IHC RS Pusat Pertamina (RSPP), dr. Ayijati K, Sp.A, menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya bukan hanya pada pertumbuhan fisik.

Stunting, lanjut Ajiyati, juga dapat menghambat perkembangan otak dan kecerdasan serta meningkatkan risiko penyakit metabolik saat dewasa. "Pemberian ASI merupakan investasi utama dan langkah pertama paling efektif dalam mencegah stunting," ujar Ayijati.

Pentingnya ASI dalam mencegah stunting disampaikan Ajiyati dalam peringatan Pekan ASI Sedunia 2026 di IHC RSPP belum lama ini.

Menurutnya, ASI memiliki kandungan yang dinamis dan menyesuaikan kebutuhan tumbuh kembang bayi. Kandungan tersebut berubah dari kolostrum, ASI transisi, hingga ASI matur.

Kolostrum Jadi Perlindungan Awal Bayi

Lebih lanjut, Ajiyati menjelaskan bahwa kolostrum merupakan ASI yang keluar pada hari pertama hingga keempat. Cairan ini kaya imunoglobulin A (IgA) yang membantu mendukung daya tahan tubuh bayi.

Volume kolostrum juga sesuai dengan kapasitas lambung bayi baru lahir yang masih kecil, sekitar 5–7 mililiter atau seukuran buah ceri.

Setelah itu, bayi memasuki fase ASI transisi pada hari kelima hingga ke-14. Pada tahap ini, kandungan lemak dan kalori meningkat untuk mendukung pertumbuhan bayi hingga berat badannya kembali ke berat lahir pada usia sekitar 14 hari.

Mulai hari ke-14, ASI memasuki fase matur. Pada tahap ini terdapat foremilk dan hindmilk dengan fungsi yang berbeda.

Foremilk membantu memenuhi kebutuhan cairan dan energi, sedangkan hindmilk lebih kaya lemak sehingga membantu memberikan rasa kenyang dan mendukung peningkatan berat badan bayi.

"Mulai dari kolostrum di hari pertama yang kaya antibodi dan bertindak sebagai 'vaksin alami', ASI transisi, hingga ASI matur dengan kandungan foremilk dan hindmilk yang kaya nutrisi dan lemak untuk mengoptimalkan kenaikan berat badan bayi," ujar Ayijati.

Cegah Stunting Butuh Pengasuhan Menyeluruh

Pemberian ASI menjadi salah satu bagian dari upaya cegah stunting. Menurut Ayijati, kebutuhan gizi anak perlu berjalan bersama pengasuhan yang tepat melalui prinsip ASIH, ASAH, dan ASUH.

ASIH mencakup kasih sayang dan rasa aman. ASAH berkaitan dengan stimulasi dan perkembangan kognitif. Sementara ASUH mencakup kebutuhan fisik, seperti ASI, MPASI, imunisasi, dan sanitasi.

Keberhasilan menyusui juga perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan. Ibu dianjurkan mendapatkan edukasi dan konsultasi laktasi, melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) setelah melahirkan, serta menerapkan rawat gabung selama 24 jam.

Ibu juga perlu memahami tanda lapar bayi atau early cues, tanda cukup ASI, dan memastikan pelekatan atau latch-on dilakukan dengan tepat. Penggunaan botol dot atau empeng perlu dihindari karena dapat memicu bingung puting.

Pencegahan stunting kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama nol sampai enam bulan dan diteruskan hingga usia 2 tahun bersama MPASI. Pemenuhan gizi ibu hamil, imunisasi lengkap, sanitasi, serta akses air bersih juga menjadi bagian penting.

Pantau Tumbuh Kembang Anak

Untuk mendukung ibu selama masa menyusui, IHC RSPP menghadirkan Klinik Laktasi IHC RSPP dengan tim profesional yang mendampingi sejak masa kehamilan.

Ibu yang memasuki trimester akhir disarankan melakukan konsultasi laktasi pra-persalinan. Pendampingan ini mencakup persiapan fisik dan mental, teknik menyusui, hingga menghadapi tantangan pada masa awal setelah melahirkan.

Selain itu, kata Ajiyati, orangtua perlu memantau status gizi dan tumbuh kembang anak secara berkala. Anak di bawah usia satu tahun disarankan dipantau setiap bulan melalui pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala di fasilitas kesehatan terdekat.