Terapi Kanker Hati dengan Cairan Radioaktif, Begini Cara Kerjanya

Terapi dengan partikel radioaktif ini menyasar langsung ke area kanker hati melalui prosedur minimal invasif.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 19 September 2026, 12:00 WIB
Para pakar dari Mandaya Royal Hospital Puri mengungkapkan teknologi dalam terapi kanker hati.

Liputan6.com, Tangerang - Kanker hati termasuk dalam penyakit kronis yang mematikan. Secara global, kanker hati menyebabkan 2 juta kematian setiap tahunnya.

Profesor Dr dr Aru W. Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM mengatakan sebelum khawatir kanker hati yang perlu diwaspadai adalah penyakit hati lainnya seperti hepatitis B, perlemakan hati dan sirosis hati. 

"Kita tahu ada hepatitis B atau C, fatty liver, sirosis hati, dan lainnya hingga akhirnya menyebabkan tumor dan kanker hati. Jadi sebelum sampai kesana, harus dilakukan pemeriksaan rutin dulu," ujar Prof Aru saat diskusi Introduction to SIRT Y-90 In Liver Cancer Treatment di lobi Mandaya Royal Hospital Puri, Kota Tangerang, Banten pada Kamis (17/9/2026).

Maka dari itu seseorang yang sehat, Prof Aru mengingatkan masyarakat untuk menjalani gaya hidup sehat. Diantaranya dengan tidak merokok, atau berada di lingkungan perokok. Perhatikan asupan garam, gula dan makanan berlemak, serta biasakan berolahraga. Lalu, rutin melakukan pemeriksan kesehatan secara rutin. 

Bila muncul ada keluhan, segera ke rumah sakit. Pasti ada proses pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter kepada pasiennya, sebelum menegakan diagnosa dan juga memberikan treatment pengobatan.

"Jadi sebelum diputuskan treatment apa, ada dokter multidisiplin yang akan menangani. Termasuk memutuskan, misal dia terkena kanker pada akhirnya, treatment apa yang akan diberikan," ujarnya.

Salah satu penanganan terapi kanker hati adalah dengan cairan yang mengandung radioaktif. Terapi radiasi internal Selective Internal Radiation Therapy (SIRT) Y-90 menjadi salah satu alternatif penanganan yang memberikan harapan hidup lebih tinggi bagi pasien kanker hati primer, maupun yang sudah mengalami metastasis.

​Terapi berbasis partikel radioaktif Yttrium-90 ini menyasar langsung ke area tumor melalui prosedur minimal invasif. Sebelum terapi, pasien harus memenuhi berbagai kriteria terlebih dulu. Misalnya bagi yang berusia di atas 60 tahun karena tidak dimungkinkan dioperasi dengan luka sayat terbuka lebar, tumor belum menyebar, dan lainnya seperti disampaikan dokter spesialis kedokteran nuklir konsultan onkologi, Eko Purnomo. 

Tim medis memasukkan kateter dari pembuluh darah di area paha, lalu mengarahkannya ke pembuluh darah utama yang memasok nutrisi ke tumor di hati.

"Jadi, nanti dimasukkan oleh tim dokter spesialis dan tim yang lainnya dalam pengawasan ketat. Cairan itu langsung diantar langsung ke kanker liver atau tumornya. Nah, setelah masuk, dikunci dan dia meradiasi di tumornya, tidak ke organ lain," ungkap Eko.

Dengan cara kerja tersebut, SIRT Y-90 dapat menjadi pilihan bagi pasien dengan kondisi tumor tertentu yang belum memungkinkan menjalani operasi langsung.

​"Prosedur ini sangat berharga bagi pasien yang tumornya tidak memungkinkan untuk langsung dioperasi akibat faktor ukuran, posisi lokasi yang sulit, atau keterlibatan struktur organ vital di sekitarnya,"katanya.

​Selain menghentikan perkembangan sel kanker, SIRT Y-90 berfungsi membantu mengecilkan ukuran massa tumor secara efektif. Penyusutan ini membuka ruang evaluasi baru bagi tim dokter untuk merencanakan tindakan medis lanjutan, seperti operasi pengangkatan tumor hingga opsi transplantasi hati.

Tumor Hati Bisa Mengecil karena Radiasi

Dalam dialog tersebut pun, dokter spesialis radiologi konsultan, Sugianto Santoso memaparkan, terapi yang menggunakan partikel radioaktif Yttrium-90 ini telah diberikan kepada setidaknya 5 pasien kanker hati.

"Dari pasien yang telah menjalani evaluasi pascatindakan, dua pasien sudah menunjukkan hasil perkembangan yang dapat diamati. Pada salah satu pasien, pemeriksaan terbaru menunjukkan berkurangnya area tumor yang mengalami enhancement atau menyerap kontras,"katanya.

Temuan tersebut menunjukkan adanya penurunan aliran darah menuju tumor dan berkurangnya aktivitas jaringan tumor. Ukuran massa tumor pasien tersebut juga mengalami penurunan, dari sebelumnya 8,8 x 10,4 cm menjadi 6,8 x 6,7 cm. Sejalan dengan hasil pemeriksaan, keluhan yang sebelumnya dirasakan pasien juga mulai berkurang.

Sementara pada pasien lainnya, pemeriksaan pencitraan menunjukkan lesi di hati sudah tidak memperlihatkan tanda-tanda adanya tumor yang aktif. Kondisi ini dikenal sebagai non-viable tumor, yang menggambarkan jaringan tumor yang sudah tidak aktif atau mengalami kematian sel sehingga tidak lagi menunjukkan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang.

"Perkembangan setiap pasien berbeda-beda, jadi terus dipantau pada pemeriksaan berkelanjutan," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya