Liputan6.com, Jakarta - Masing-masing individu merasakan efek minuman yang mengandung kafein. Ada yang bisa tetap melek hingga larut malam setelah minum kopi, dan ada juga yang tidak merasakan dampak kafein.
Mengutip BBC, Minggu (20/9/2026), tipe orang yang bisa menenggak double espresso atau minuman energi pada malam hari, tetapi bisa tertidur pulas sekitar satu jam kemudian. Namun, bagi banyak orang, efek kafien dapat bertahan jauh lebih lama.
Advertisement
Lantas, mengapa ada orang yang bisa minum kopi sebelum tidur dan terlelap nyenyak, sementara yang lain justru terjaga.
Apa sebenarnya kafein itu?
Kafein adalah zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Lebih dari dua miliar cangkir kopi diminum setiap harinya, dan angka itu belum termasuk cola, minuman berenergi, serta cokelat, permen karet, dan suplemen olahraga yang juga mengandung zat kimia tersebut.
Kafein dapat membuat seseorang merasa lebih waspada, meningkatkan konsentrasi, dan menunda rasa lelah. Namun, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan sakit kepala, rasa gelisah, jantung berdebar kencang, dan gangguan tidur di malam hari.
Menurut para ahli, kafein tidak memberikan energi tambahan bagi tubuh, melainkan membantu menyamarkan rasa lelah.Hal ini dilakukan dengan cara menghambat kerja adenosin, yaitu zat kimia yang menumpuk di otak sepanjang hari dan memicu rasa kantuk.
Mengapa dampaknya berbeda pada setiap orang?
Salah satu faktor utamanya adalah seberapa lama kafein bertahan di dalam tubuh. Setelah meminum secangkir kopi, kafein diserap ke dalam aliran darah dan dengan cepat mencapai otak.
Pada saat yang sama, zat ini juga diurai atau di-metabolisme, oleh enzim di dalam hati, lalu dikeluarkan dari tubuh melalui urine.
Proses Pembersihan
Profesor madya bidang nutrisi di Northwestern University, Chicago, Dr Marilyn Cornelis menuturkan, proses pembersihan ini bisa memakan waktu antara enam hingga 20 jam, tergantung pada kondisi masing-masing individu.
"Bisa saja seseorang minum cangkir kopi pertama dan mungkin tidak merasakan efek apa pun," ujar dia.
"Namun, dua atau tiga jam kemudian, kafein masih tertinggal di dalam tubuh; jika Anda meminum cangkir kedua, jumlah tersebut mungkin cukup untuk memicu perubahan kondisi hingga Anda mulai merasa sedikit cemas,” ia menambahkan.
Seberapa cepat hati dapat memproses kafein bergantung pada satu gen spesifik yang dikenal sebagai CYP1A2. Menariknya, hal ini mungkin dipengaruhi setidaknya sampai tingkat tertentu oleh latar belakang keturunan Anda.
Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun ini menemukan orang Eropa dan Amerika Selatan cenderung mengurai kafein lebih cepat.
Faktor yang Berperan
Faktor apa lagi yang berperan?
DNA Anda bukanlah satu-satunya penentu. Kebiasaan merokok namun kemungkinan besar tidak termasuk vaping, tampaknya memicu hati untuk mengurai kafein jauh lebih cepat, bahkan mempercepat proses tersebut hingga 65%.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa perokok cenderung lebih banyak minum kopi dan mengapa orang yang berhenti merokok bisa tiba-tiba merasa kopi yang biasa mereka minum terasa jauh lebih kuat dampaknya dibandingkan sebelumnya.
Beberapa jenis antibiotik, pil kontrasepsi, dan obat resep lainnya dapat memberikan efek sebaliknya; obat-obatan ini membuat kafein bertahan lebih lama di dalam tubuh dan memperpanjang efeknya.
Kondisi serupa juga terjadi selama kehamilan, saat perubahan hormon menghambat kerja enzim hati yang berfungsi mengurai kafein.
Selain itu, ada pula faktor toleransi tubuh. Orang yang rutin minum kopi menjadi kurang peka terhadap kafein seiring tubuh beradaptasi dengan keberadaan zat kimia tersebut.
Jika Anda kemudian berhenti minum kopi selama beberapa minggu, adaptasi otak tersebut akan mulai berbalik. Ini artinya, saat kembali minum kopi, Anda mungkin merasa sangat terjaga atau gelisah secara tidak biasa.
Saran Para Ahli
Apa saran para ahli?
Peneliti masalah tidur sering menyarankan untuk menghindari kafein setidaknya enam jam sebelum waktu tidur.
Dr. Lindsay Browning, seorang psikolog dan ahli masalah tidur, mengatakan bahwa bukti-bukti menunjukkan kafein tidak hanya dapat menghambat Anda untuk tertidur, tetapi juga memengaruhi kualitas tidur.
"Saya menyarankan orang-orang untuk menghindari kafein setelah pukul 14.00 jika mereka berencana tidur sekitar pukul 22.00," ujar dia.
"Namun, aturan baku yang berlaku umum bagi semua orang tidaklah efektif, karena tidak mempertimbangkan kerumitan dan perbedaan kondisi pada setiap individu,” ia menambahkan.
NHS (layanan kesehatan Inggris) menyarankan ibu hamil untuk membatasi asupan kafein di bawah 200 mg per hari setara dengan sekitar dua cangkir besar kopi seduh (filter coffee) karena penelitian mengaitkan asupan kafein berlebih dengan risiko berat badan lahir rendah dan komplikasi lainnya.
Kuncinya Adalah Konsumsi
Bagi orang dewasa lainnya, kuncinya adalah konsumsi dalam jumlah wajar, mengingat tingkat kepekaan terhadap kafein sangat bervariasi pada setiap orang.
"Kafein relatif aman," kata Profesor emeritus bidang nutrisi di Universitas Bristol, Peter Rogers
"Jika Anda mengonsumsinya dalam jumlah besar, Anda akan mulai merasa gelisah dan tidak nyaman, lalu menyadari, 'Saya harus berhenti; tidak ada gunanya menambah asupan lagi,” ia menambahkan.
Kasus overdosis kafein sangat jarang terjadi, dan keracunan parah hampir selalu disebabkan oleh produk kafein pekat, di mana seseorang bisa menelan beberapa gram kafein hanya dalam hitungan menit.
Kabar baik bagi para pencinta kopi adalah bahwa kebiasaan rutin minum kopi di pagi hari meskipun biayanya tidak murah justru dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.
Meskipun para peneliti tidak dapat membuktikan bahwa kopi merupakan satu-satunya penyebab, berbagai penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsinya dalam jumlah wajar cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap beberapa penyakit utama, bahkan mungkin memiliki umur yang sedikit lebih panjang dibandingkan mereka yang tidak minum kopi.